Jumat, 12 Juni 2026

ADB Nilai Dampak Tarif Resiprokal AS Tak Signifikan Terhadap Ekonomi Indonesia

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Kamis, 10 April 2025 | 09:00 WIB
ADB Nilai Dampak Tarif Resiprokal AS Tak Signifikan Terhadap Ekonomi Indonesia. (KlikSoloNews/dok)
ADB Nilai Dampak Tarif Resiprokal AS Tak Signifikan Terhadap Ekonomi Indonesia. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM — Kebijakan tarif resiprokal sebesar 32 persen yang diterapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, diprediksi tidak akan membawa dampak besar terhadap perekonomian Indonesia.


Hal ini disampaikan Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam laporan terbaru mereka yang dirilis dalam webinar Asian Development Outlook (ADO) edisi April 2025.


Nguyen Ba Hung, Ekonom ADB untuk kawasan Asia Tenggara, menjelaskan secara kualitatif, kebijakan tarif tersebut tidak akan menimbulkan tekanan berarti terhadap Indonesia. Salah satu alasannya adalah karena kontribusi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat relatif kecil terhadap keseluruhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.


“Ekspor Indonesia ke AS hanya menyumbang sekitar 2 persen dari total PDB. Oleh karena itu, kenaikan tarif 32 persen ini tidak akan berpengaruh besar pada ekonomi kita,” jelas Nguyen dalam webinar yang diikuti secara daring dari Jakarta, Rabu 9 April 2025, dilansir Voiceofnusantara, jejaring KlikSoloNews.


Nguyen menambahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih banyak digerakkan konsumsi domestik dan investasi. Dengan demikian, perubahan kebijakan perdagangan luar negeri seperti tarif resiprokal AS tidak memiliki efek langsung yang signifikan terhadap struktur perekonomian Indonesia.


Meskipun begitu, ia menyebut bahwa ADB masih belum bisa memberikan estimasi kuantitatif mengenai dampak kebijakan tarif tersebut terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini.


“Masih terlalu dini untuk memberikan angka pasti soal dampaknya. Tapi secara umum, Indonesia cukup tangguh,” ujarnya.


Luhut Optimistis


Sebagai informasi, Presiden Donald Trump pada Rabu 2 April 2025, mengumumkan kenaikan tarif impor terhadap sejumlah negara sebagai bentuk kebijakan perdagangan resiprokal.


Indonesia masuk dalam daftar kedelapan negara yang dikenakan tarif, dengan besaran 32 persen untuk berbagai komoditas yang masuk ke pasar Amerika.


Menanggapi kebijakan ini, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyampaikan pandangan yang cenderung optimistis.


Ia menilai kebijakan Tarif Trump justru bisa membuka peluang strategis bagi Indonesia dalam konteks reposisi perdagangan global.


“DEN melihat ini bukan hanya tantangan, tetapi peluang. Tarif resiprokal bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi asing dan menjadikannya sebagai basis produksi global,” kata Luhut dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Prabowo di Jakarta, Selasa 8 April 2025.


Menurut Luhut, tantangan geopolitik global harus direspons dengan kebijakan strategis dalam negeri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X