Jumat, 12 Juni 2026

Pakar Keuangan Peringatkan Risiko Menimbun Uang Tunai di Rekening Bank

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Rabu, 3 Desember 2025 | 19:45 WIB
Pakar Keuangan Peringatkan Risiko Menimbun Uang Tunai di Rekening Bank. (KlikSoloNews/dok)
Pakar Keuangan Peringatkan Risiko Menimbun Uang Tunai di Rekening Bank. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM - Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, pepatah “uang cash adalah raja” kembali sering terdengar. Banyak orang merasa lebih aman ketika memiliki saldo besar di rekening bank sebagai langkah berjaga-jaga menghadapi ketidakpastian.

Namun, para ahli keuangan mengingatkan bahwa kebiasaan menimbun uang tunai dalam jumlah besar justru dapat menjadi jebakan halus yang merugikan di masa depan.

Jessica Goedtel, seorang perencana keuangan dari Pennsylvania, menjelaskan bahwa menyimpan terlalu banyak uang tunai di rekening bukan pilihan paling aman.

Menurut Jessica, uang tunai di rekening tidak memiliki perlindungan nilai seperti halnya instrumen investasi tertentu.

Ia menambahkan, jika rekening tidak diamankan atau dikelola dengan baik, risiko kehilangan dana bisa meningkat.

Selain itu, nilai uang yang hanya mengendap di rekening juga akan tergerus oleh inflasi. Nilai beli yang terus turun membuat uang tunai kehilangan kekuatan finansialnya dari tahun ke tahun.

Gregory Guenther, konselor pensiun asal New Jersey, menekankan pentingnya menjaga jumlah uang tunai dalam batas wajar.

“Terlalu banyak uang di rekening membuat Anda kehilangan peluang pertumbuhan melalui instrumen berimbal hasil lebih tinggi. Namun terlalu sedikit juga berisiko karena menimbulkan kecemasan,” jelasnya.

Guenther menyarankan agar saldo di rekening hanya diisi untuk kebutuhan jangka pendek, seperti pengeluaran bulanan dan rencana pengeluaran dalam waktu dekat.

Saldo Rekening Bukan Dana Darurat

Meskipun menjaga saldo yang seimbang dapat membantu menghindari biaya administrasi bank, para ahli keuangan sepakat bahwa uang di rekening bank tidak dapat dianggap sebagai dana darurat.

Dana darurat seharusnya dialokasikan secara khusus untuk kebutuhan besar dan tak terduga, seperti biaya medis mendadak, kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan atau rumah, dan kebutuhan mendesak lainnya

Dana darurat idealnya disimpan dalam instrumen yang aman, likuid, namun tetap memberikan nilai tambah, sehingga tidak tergerus inflasi.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, memiliki uang tunai memang perlu. Namun, ahli keuangan menegaskan pentingnya menyeimbangkan antara uang yang disimpan dan uang yang diinvestasikan.

Menempatkan seluruh dana dalam bentuk cash hanya memberi rasa aman semu—sementara di balik itu terdapat risiko inflasi, hilangnya peluang pertumbuhan, dan kemungkinan kerugian jika rekening tidak terlindungi dengan baik.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X