Sabtu, 13 Juni 2026

Kemenaker Beberkan Alasan Banyak Perusahaan Ragu Rekrut Gen Z, Soft Skill Jadi Masalah Utama

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Minggu, 28 September 2025 | 16:30 WIB
Kemenaker Beberkan Alasan Banyak Perusahaan Ragu Rekrut Gen Z, Soft Skill Jadi Masalah Utama. (KlikSoloNews/dok ai)
Kemenaker Beberkan Alasan Banyak Perusahaan Ragu Rekrut Gen Z, Soft Skill Jadi Masalah Utama. (KlikSoloNews/dok ai)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Generasi Z (Gen Z) kerap menghadapi tantangan saat memasuki dunia kerja. Meski secara kemampuan teknis (hard skill) sudah mumpuni, banyak perusahaan di Indonesia ternyata masih ragu untuk merekrut mereka.

Alasannya bukan pada latar belakang pendidikan, melainkan pada kelemahan soft skill yang dinilai belum memenuhi standar.

Kepala Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Surya Lukita, menyampaikan bahwa perusahaan saat ini lebih mengutamakan kemampuan sosial dan interpersonal dibandingkan keterampilan teknis semata.

“Sekarang ini isunya bukan kemampuan teknis. Perusahaan lebih melihat soft skill para pencari kerja yang masih kurang. Makanya muncul isu perusahaan agak enggan mempekerjakan Gen Z,” kata Surya dalam media briefing di Jakarta, Jumat 26 September(26/9/2025).

Menurut Surya, banyak lowongan kerja yang sebenarnya sudah sesuai dengan kualifikasi pendidikan lulusan SMA/SMK atau sederajat. Namun, tidak sedikit kandidat gagal melangkah lebih jauh karena tidak mampu menunjukkan soft skill yang baik saat wawancara kerja.

Apa Itu Soft Skill?

Soft skill mencakup sejumlah keterampilan non-teknis yang berkaitan dengan kepribadian dan interaksi sosial, seperti komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, adaptabilitas, dan pemecahan masalah.

Berbeda dengan hard skill yang sifatnya teknis dan dapat diukur, soft skill lebih abstrak dan sangat menentukan bagaimana seseorang berinteraksi di lingkungan kerja.

Fenomena lemahnya soft skill Gen Z ternyata tidak hanya dialami Indonesia. Di Malaysia, dua karyawan Gen Z bahkan menjadi sorotan publik setelah memutuskan mengundurkan diri hanya dua hari bekerja.

Dilansir dari majalah digital Singapura 8days, seorang pengusaha Malaysia membagikan pengalaman tersebut di media sosial Threads. Ia menerima surat pengunduran diri singkat dari dua karyawannya yang baru saja bergabung.

Alasan yang ditulis cukup mengejutkan, yakni cuaca dingin dan biaya hidup tinggi di lokasi kerja, yaitu Dataran Tinggi Genting yang bersuhu 10–25 derajat Celcius.

Kisah tersebut menuai komentar beragam dari warganet. Ada yang menilai alasan itu sepele, sementara lainnya menyoroti sikap tidak profesional karena resign tidak dilakukan melalui prosedur resmi.

Tak sedikit netizen menyindir bahwa perilaku Gen Z di dunia kerja kerap tidak konsisten, bahkan ada yang menyamakannya dengan cuaca: sulit ditebak.

Kasus di Indonesia dan Malaysia sama-sama menunjukkan bahwa generasi muda perlu lebih serius mengasah soft skill agar mampu bersaing di dunia kerja.

Selain ijazah dan keterampilan teknis, kemampuan komunikasi, etika kerja, serta sikap profesional menjadi kunci utama untuk mendapatkan kepercayaan perusahaan.(ks01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X