KARANGANYAR, KLIKSOLONEWS.COM – Sebuah pabrik cat biasanya identik dengan gedung besar, pagar tinggi, dan suasana tertutup. Namun hal berbeda terlihat di Desa Pulosari, Kebakkramat, Karanganyar.
Di sinilah berdiri PT Indaco Warna Dunia (INDACO), sebuah pabrik cat yang justru menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga sekitar.
Alih-alih terisolasi dari lingkungan, pabrik INDACO justru berdiri di tengah kampung. Jalan desa membelah area pabrik, sawah-sawah mengelilinginya, dan aktivitas masyarakat berjalan berdampingan dengan roda industri.
“Kalau pagi, anak-anak sekolah lewat depan pabrik, pekerja juga keluar masuk. Jadi sudah biasa, seperti bagian dari kampung ini,” tutur Suyatno, salah satu warga Desa Pulosari.
Keunikan lain dari pabrik INDACO ada pada dinding luarnya. Alih-alih polos atau sekadar dicat, tembok pabrik dipenuhi karya grafiti dari seniman berbagai negara.
Lukisan-lukisan mural ini lahir dari ajang Meeting of Styles (MOS) Indonesia, sebuah pertemuan internasional seniman grafiti.
Hasilnya, kawasan pabrik kini menjadi spot foto favorit. Banyak warga maupun pengunjung dari luar daerah yang berhenti sejenak untuk berfoto di depan mural berwarna-warni.
“Dulu kalau lewat ya biasa saja. Sekarang temboknya bagus, jadi banyak yang foto-foto,” kata Dina, pelajar asal Kebakkramat.
Berbeda dengan pabrik kebanyakan, INDACO mengusung prinsip inklusif. Pagar yang tidak terlalu tinggi, pintu kantor terbuka, dan bahkan tamu perusahaan kerap dijamu di warung-warung milik warga. Hal ini membuat batas antara industri dan masyarakat semakin tipis.
Menurut Presiden Direktur INDACO, Iwan Adranacus, konsep tersebut memang sengaja dipilih. “Kami ingin pabrik ini tidak menutup diri. Justru harus bisa hidup berdampingan dengan masyarakat. Kalau ada tamu datang, kami ajak ke warung warga. Itu bentuk kebersamaan,” jelasnya.
Teknologi Hijau untuk Masa Depan
Selain harmonis dengan masyarakat, INDACO juga dikenal sebagai pelopor penggunaan teknologi liquid base reactor sejak 2012. Teknologi ini membuat proses produksi cat lebih hemat energi, efisien, dan ramah lingkungan.
-
Meski investasinya mahal, INDACO percaya langkah itu sejalan dengan visi jangka panjang. “Kami ingin industri yang tidak hanya mengejar keuntungan, tapi juga memikirkan keberlanjutan,” kata Iwan.
Keberadaan pabrik di tengah kampung tentu tidak lepas dari tantangan awal. Namun, berkat komunikasi terbuka, lambat laun masyarakat menerima dan mendukung. Kini, INDACO dikenal sebagai pabrik yang minim konflik lingkungan.
“Kalau ada masalah kecil, langsung bisa dibicarakan. Pihak pabrik juga terbuka. Jadi ya adem ayem saja,” tambah Suyatno.
Dengan tembok penuh grafiti, prinsip ramah lingkungan, dan hubungan harmonis bersama warga, INDACO menjadi contoh bahwa industri tidak selalu identik dengan polusi dan konflik.
Sebaliknya, pabrik bisa hadir sebagai bagian dari kehidupan desa, memberi warna baru bagi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.(KS01)