Jumat, 12 Juni 2026

Sukamta Sebut Kesepakatan Dagang RI-AS Strategis, tapi Perlu Waspadai Risiko Defisit

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Jumat, 18 Juli 2025 | 17:00 WIB
Sukamta Sebut Kesepakatan Dagang RI-AS Strategis, tapi Perlu Waspadai Risiko Defisit. (KlikSoloNews/dok)
Sukamta Sebut Kesepakatan Dagang RI-AS Strategis, tapi Perlu Waspadai Risiko Defisit. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM — Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, menyambut positif kesepakatan dagang baru antara Indonesia dan Amerika Serikat yang menetapkan tarif tetap 19 persen bagi produk ekspor Indonesia ke AS.

Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan ini juga membawa potensi risiko, termasuk ancaman defisit neraca perdagangan dan tekanan terhadap industri lokal.

Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu 16 Juli 2025, Sukamta menyebut meskipun kesepakatan ini terlihat berat sebelah di atas kertas—di mana Indonesia membebaskan tarif bagi produk-produk asal AS—secara strategis Indonesia justru mendapatkan pengakuan yang lebih besar secara geoekonomi.

“Meski Indonesia belum bisa dikategorikan ke dalam negara maju, tapi kita optimis dengan tren yang positif, kita on the track ke arah sana,” ujar Sukamta dilansir Voiceofnusantara, jejaring KlikSoloNews.

Kesepakatan tersebut merupakan hasil negosiasi langsung antara Presiden RI, Prabowo Subianto dan Presiden AS, Donald Trump.

Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social, Trump menyampaikan  seluruh produk dari Indonesia akan dikenai tarif tetap sebesar 19 persen, turun dari tarif sebelumnya yang mencapai 32 persen, mulai pertengahan 2025.

Menurut Sukamta, keputusan pemerintah patut diapresiasi dari sudut pandang diplomasi ekonomi. Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan PDB per kapita Indonesia selama satu dekade terakhir menjadi sinyal positif Indonesia sedang menuju status sebagai negara ekonomi menengah ke atas, bahkan mendekati kategori negara maju.

“Dengan posisi ini, kita harapkan daya tawar Indonesia meningkat dalam percaturan global, bukan hanya ekonomi, tapi juga politik internasional,” ujarnya, sambil menyinggung pentingnya isu-isu geopolitik seperti kemerdekaan Palestina dan dinamika di Timur Tengah.

Meski demikian, Sukamta menyoroti potensi dampak negatif dari kesepakatan tersebut. Salah satunya adalah risiko memburuknya neraca perdagangan Indonesia terhadap AS, yang selama ini selalu mencatatkan surplus sejak 2020.

“Masuknya produk-produk asal Amerika Serikat tanpa beban tarif bisa membanjiri pasar domestik dan menekan daya saing produk dalam negeri,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa negara-negara lain bisa saja merespons dengan menurunkan harga agar tetap kompetitif, yang bisa memperparah tekanan terhadap industri lokal.

“Yang berpotensi terancam adalah produk-produk lokal. Bagaimana produk-produk lokal bisa bersaing dengan produk-produk luar tersebut,” tandasnya.

Sukamta berharap pemerintah telah menghitung secara cermat seluruh konsekuensi ekonomi dari kesepakatan ini, termasuk efek jangka panjang terhadap sektor manufaktur, UMKM, dan stabilitas perdagangan dalam negeri.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X