Jumat, 12 Juni 2026

Bathara, Batik Hasil Kreasi Sang Pangeran

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Minggu, 26 Juli 2020 | 10:47 WIB
PEKALONGAN (KLIKSOLONEWS.COM) – Masyarakat seni budaya Indonesia tentu tak asing lagi dengan sosok sang pangeran dalam lingkup Pura Mangkunegaran, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna Jiwo Suryonegoro.

Paundra, sapaan karibnya, berkreasi tak hanya lewat seni, tetapi juga memiliki jiwa enterpreneur bidang seni batik yang digeluti.

Batik khas Pura Mangkunegaran dengan motif yang tak banyak orang tahu akan dipresentasikan dalam event Istana Batik Keris (IBK).

Paundra juga ikut andil dalam rekontruksi  IBK yang dulu dikenal Omah Lowo. Lokasi Omah Lowo sangat terkenal, berdiri di kawasan kampung batik Laweyan.

Cucu Presiden pertama RI, Soekarno ini juga turut andil dalam pemberian nama Omah Lowo menjadi IBK kemudian beberapa desain interior bangunan.

Mengapa disebut "IBK", karena Batik Keris sudah berusia seabad dalam dunia perbatikan di Nusantara. Sudah selayaknya dengan momentum tersebut sebuah istana berdiri  kokoh dengan koleksi dan galeri batik di Kota Solo.

Melalui kunjungan kerja ke Ibu Kota Batik, Pekalongan, Jawa Tengah, Paundra mengkreasikan batik dengan gaya kekinian menyentuh jiwa muda, elegan, dan royal.

Karya batik ciptaan putra Sukmawati Soekarnoputri ini akan dipresentasikan bertepatan Hari Batik Nasional serta peresmian Omah Lowo, dengan berkolaborasi menggandeng Linawati Tjokro selaku pemilik Batik Keris Group.

Dengan mengusung brand "Bathara", Paundra ingin mengangkat cipta karya karsa batik lebih manly dan out of the box .

“Mengapa ke kota Pekalongan? Karena Pekalongan sebagai Ibu Kotanya batik dunia,saya pun juga sedang berproses memelajari motif batik Nusantara yang beraneka itu,” kata Paundra kepada KLIKSOLONEWS.

Tak hanya itu Paundra juga bertemu dengan designer batik dan UMKM batik menggali olah rasa, olah jiwa dari seorang maestro perbatikan sebut saja Lek man atau Sulaiman, seorang pelestari batik.

Batik Bathara yang keluar dari pakem rasa kekinian, manly, jiwa muda akan menyasar jiwa-jiwa milineal hingga pejabat.

“Kalau  bukan kita sendiri nguri-nguri batik, lantas siapa lagi. Saya mungkin akan bolak-balik ke Pekalongan. Saya tidak pernah berhenti belajar dan terus belajar,” pungkas pria berusia 40 tahun ini.(Daniel Yugusta)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X