Baca Juga: Polresta Surakarta Bantah Ada Penangkapan Mahasiswa saat Demo BEM Solo Raya
Menurut Ahmad Luthfi, keberadaan dokter spesialis di desa membantu mendeteksi penyakit lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
"Secara tidak langsung dokter spesialis dapat melakukan deteksi dan antisipasi sejak dini. Seluruh layanan diberikan secara gratis," ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, dr Zulfachmi Wahab, mengungkapkan bahwa sejak 2025 hingga 10 Juni 2026, program Speling telah melayani 107.083 warga.
Layanan tersebut dilakukan melalui 1.248 kegiatan yang menjangkau 454 kecamatan dan 1.138 desa di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Menurutnya, pendekatan jemput bola menjadi faktor utama yang mendorong tingginya partisipasi masyarakat dalam program CKG.
"Kolaborasi program CKG dan Speling memberikan dampak besar bagi masyarakat. Keduanya saling melengkapi dalam upaya deteksi dini penyakit dan perluasan akses layanan kesehatan spesialis hingga tingkat desa," kata Zulfachmi.
Baca Juga: Pendaki Gunung Merbabu Asal Bandungan Meninggal di Jalur Selo, Polisi Tidak Temukan Tanda Kekerasan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana memperluas cakupan program Speling dengan target menjangkau sekitar 1.000 desa sepanjang 2026.
Target tersebut diharapkan mampu melayani lebih dari 100 ribu warga melalui berbagai layanan kesehatan spesialis yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis.
Selain itu, Pemprov Jawa Tengah juga menggandeng berbagai pihak, termasuk kepolisian dan perguruan tinggi, untuk memperkuat pelaksanaan program kesehatan masyarakat.
Dengan capaian tersebut, Jawa Tengah tidak hanya menjadi provinsi dengan peserta Cek Kesehatan Gratis terbanyak di Indonesia, tetapi juga dinilai berhasil menghadirkan inovasi pelayanan kesehatan berbasis desa yang berpotensi diterapkan secara nasional.(*)