Ia juga menyoroti strategi pemasaran yang dinilai menyasar kalangan muda.
“Visual yang mencolok, narasi yang menarik, hingga harga murah membuat iklan ini sangat mudah menarik perhatian remaja,” tambahnya.
Kondisi tersebut diperkuat oleh temuan di lapangan. Aktivis muda, Syifa Yustiana, menilai paparan iklan sudah menjadi hal yang lumrah di sekitar sekolah.
“Anak-anak setiap hari melihat iklan rokok di depan gerbang sekolah. Ini berbahaya karena bisa membentuk persepsi bahwa merokok adalah hal yang biasa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak sosial-ekonomi yang muncul. “Pengeluaran masyarakat untuk rokok masih tinggi dibandingkan kebutuhan gizi. Ini tentu berdampak pada kualitas kesehatan keluarga,” katanya.
Sementara itu, peneliti dari Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia, Risky Kusuma Hartono, memperingatkan potensi lonjakan jumlah perokok jika tidak ada intervensi serius.
“Tanpa perbaikan kebijakan, risiko peningkatan prevalensi perokok di daerah ini sangat tinggi,” tegasnya.
Ia menambahkan, rendahnya capaian implementasi KTR menjadi indikator perlunya evaluasi menyeluruh.
“Skor kepatuhan yang masih rendah menunjukkan bahwa kebijakan yang ada belum berjalan efektif,” jelasnya.
Untuk itu, ia mendorong optimalisasi pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
“Anggaran ini harus difokuskan pada edukasi, pengawasan, dan penegakan hukum agar bisa menekan jumlah perokok baru, terutama di kalangan pelajar,” pungkasnya.(KS01)