“Saya sebagai Gubernur sangat mendukung kegiatan ini. Kiranya ini harus segera ditindaklanjuti. Makin cepat makin bagus, karena saya perlu itu,” ujar Ahmad Luthfi.
Ia menambahkan, kekurangan dokter spesialis masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah. Bahkan, untuk menjawab kebutuhan mendesak, Pemprov Jateng memberikan pelatihan tambahan dari dokter spesialis kepada dokter umum di puskesmas.
Selain itu, seluruh rumah sakit di Jawa Tengah telah diinstruksikan untuk memperkuat konektivitas dengan perguruan tinggi guna mempercepat proses pendidikan spesialis.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menjelaskan bahwa kini pendidikan dokter spesialis dan subspesialis dapat ditempuh melalui dua jalur, yakni University Based dan Hospital Based.
Skema tersebut dirancang untuk mempercepat produksi tenaga medis spesialis sekaligus memperluas akses pendidikan kedokteran.
“Mari bersinergi antara rumah sakit dan perguruan tinggi untuk memproduksi dokter spesialis dan subspesialis, agar akses layanan kesehatan semakin mudah bagi masyarakat Jawa Tengah,” jelas Yunita.
Misi Kemanusiaan dan Strategi Nasional
Tenaga Ahli Mendiktisaintek sekaligus Ketua Tim Kajian Kebijakan Pendidikan Tinggi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Tri Hanggono Achmad, menegaskan bahwa pembukaan 33 prodi baru ini bukan sekadar ekspansi akademik.
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari misi kemanusiaan untuk memperbaiki distribusi dokter spesialis, terutama di luar Pulau Jawa dan wilayah 4T.
“Kolaborasi antar universitas di Jateng dan DIY ini adalah bukti nyata sinergi akademisi dalam menjamin kesehatan bangsa,” ujarnya.
Peluncuran ini juga dilakukan serentak di sejumlah daerah lain di Indonesia sebagai bagian dari strategi nasional memperkuat sistem layanan kesehatan.
Dengan tambahan 33 program studi dokter spesialis dan subspesialis baru, pemerintah berharap distribusi tenaga medis semakin merata. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan nasional secara berkelanjutan.
Upaya percepatan ini diharapkan mampu menjawab tantangan kekurangan dokter spesialis di daerah serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. (ks01)