JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp17.800 per dolar Amerika Serikat tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.
Pernyataan itu disampaikan setelah kurs rupiah terhadap dolar AS terus tertekan dalam beberapa hari terakhir. Pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), rupiah tercatat berada di level Rp17.795 per dolar AS.
Menurut Purbaya, kondisi ekonomi domestik saat ini sebenarnya masih cukup baik sehingga pelemahan rupiah dinilai tidak wajar.
“Ekonomi bagus, fundamental juga bagus. Jadi sebenarnya kondisi ini tidak masuk akal. Biasanya mata uang melemah kalau ada gangguan pada fundamental ekonomi,” ujar Purbaya di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).
Saat ditanya mengenai kemungkinan pemerintah melakukan stress test ulang terhadap APBN akibat pelemahan rupiah, Purbaya memastikan hal tersebut belum diperlukan.
Menurutnya, pemerintah sebelumnya sudah melakukan berbagai simulasi, termasuk saat harga minyak dunia berada di level tinggi hingga 100 dolar AS per barel.
Ia menyebut asumsi nilai tukar rupiah dalam berbagai skenario tersebut juga telah diperhitungkan dalam penyusunan APBN.
“Tidak ada masalah, jadi tidak perlu hitung ulang APBN,” katanya.
Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi
Purbaya juga menjelaskan pemerintah terus menjaga stabilitas pasar keuangan, termasuk melalui intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga yield obligasi tetap terkendali dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Menurutnya, kondisi pasar obligasi yang stabil menjadi faktor penting untuk menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.
Ia menambahkan, pemerintah akan kembali menyiapkan langkah lanjutan guna membantu memperkuat nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
“Kita mulai melihat aliran modal asing kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia. Ke depan juga akan ada tindakan pemerintah yang membantu penguatan rupiah lebih signifikan,” jelasnya.
Pelemahan rupiah belakangan menjadi perhatian pelaku pasar dan masyarakat karena mendekati level psikologis tertinggi sejak krisis moneter beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh berbeda dibanding masa krisis sebelumnya.(KS01)