ekonomi-bisnis

Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp20.000 per Dolar AS, Ini Analisis dan Penyebabnya

KS1
Selasa, 24 Maret 2026 | 14:00 WIB
stack of one hundred dollars notes on dollars background

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Nilai tukar rupiah dinilai masih menyimpan kerentanan besar di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda. Bahkan, dalam skenario terburuk, rupiah disebut berpotensi melemah hingga mendekati Rp20.000 per dolar AS dalam waktu relatif singkat.


Analisis tersebut disampaikan oleh Anthony Budiawan dalam konferensi pers pada Senin (23/3/2026).


Menurut Anthony, narasi bahwa ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi kuat perlu dicermati lebih dalam. Ia menilai, sejumlah indikator yang selama ini dianggap sebagai penopang justru berpotensi menyesatkan jika tidak dianalisis secara komprehensif.


“Indonesia terlena atau tepatnya diterlena oleh narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, mencapai lebih dari 150 miliar dolar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” ujarnya.


Selama ini, kekuatan ekonomi Indonesia sering dikaitkan dengan besarnya cadangan devisa yang mencapai lebih dari 150 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.400 triliun (kurs Rp16.000 per dolar AS).


Namun, Anthony menilai bahwa indikator tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya, terutama jika tekanan eksternal terus meningkat.


Faktor global seperti ketidakpastian ekonomi dunia, kebijakan suku bunga negara maju, hingga gejolak geopolitik dinilai dapat memberi tekanan signifikan terhadap nilai tukar rupiah.


Jika kondisi eksternal memburuk secara signifikan, rupiah berpotensi mengalami pelemahan tajam dalam waktu singkat.


Tekanan tersebut bisa datang dari:




  • Penguatan dolar AS secara global

  • Arus keluar modal asing (capital outflow)

  • Ketergantungan pada pembiayaan eksternal

  • Sentimen pasar terhadap emerging markets


Dalam situasi seperti itu, nilai tukar rupiah bisa tertekan hingga mendekati level Rp20.000 per dolar AS.


Para ekonom mengingatkan pentingnya kewaspadaan pemerintah dan otoritas keuangan dalam menghadapi potensi gejolak tersebut.


Langkah antisipatif diperlukan, mulai dari menjaga stabilitas pasar keuangan, memperkuat fundamental ekonomi domestik, hingga meningkatkan kepercayaan investor.


Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, stabilitas rupiah ke depan akan sangat ditentukan oleh respons kebijakan dan ketahanan ekonomi nasional.(KS01)

Tags

Terkini