ekonomi-bisnis

Presiden Prabowo: Cadangan Beras Nasional Tembus 3 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah RI

KS1
Rabu, 7 Januari 2026 | 13:15 WIB
Presiden Prabowo: Cadangan Beras Nasional Tembus 3 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah RI. (KlikSoloNews/dok Bulog)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa cadangan beras nasional yang dikelola Perum Bulog saat ini telah mencapai lebih dari 3 juta ton.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, bahkan melampaui capaian saat era swasembada pangan pada masa pemerintahan Presiden ke-2 RI, Soeharto.

Presiden Prabowo menyatakan kebanggaannya atas pencapaian tersebut karena sebelumnya rekor tertinggi cadangan beras nasional hanya berada di kisaran 2 juta ton.

“Hari ini cadangan beras kita di gudang-gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah Republik Indonesia berdiri. Ini bahkan melampaui capaian pada masa Presiden Soeharto,” ujar Prabowo, Selasa (6/1/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menegaskan target swasembada pangan yang telah dicanangkan kepada jajaran menteri bidang pangan di Kabinet Merah Putih. Awalnya, target swasembada dirancang untuk dicapai dalam kurun waktu empat tahun.

Namun, pada akhir 2025, Presiden optimistis target tersebut dapat terwujud lebih cepat, bahkan berpotensi tercapai pada tahun pertama kepemimpinannya.

“Cadangan beras tertinggi yang pernah dikelola negara sebelumnya hanya 2 juta ton. Sekarang sudah lebih dari 3 juta ton. Ini hasil kerja keras semua unsur,” tegasnya.

Presiden Prabowo menekankan ketahanan dan kedaulatan pangan merupakan syarat mutlak bagi sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat.

“Tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka kalau tidak bisa menjamin makanan untuk rakyatnya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dinamika geopolitik global yang kian tidak menentu, termasuk konflik di sejumlah kawasan yang selama ini menjadi sumber impor beras Indonesia.

Risiko Ketergantungan Impor di Tengah Geopolitik Global

Presiden Prabowo mengingatkan bahwa beberapa negara yang selama ini menjadi pemasok beras Indonesia, seperti Thailand, Kamboja, dan Vietnam, kini menghadapi konflik dan ketegangan geopolitik.

“Kalau kita tidak swasembada beras, di tengah konflik dan perang di berbagai kawasan, tentu ini menjadi risiko besar bagi ketahanan pangan nasional,” kata Prabowo.

Menurutnya, situasi tersebut menjadi peringatan penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor bahan pangan strategis.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa agenda swasembada tidak hanya difokuskan pada beras, tetapi juga mencakup komoditas pangan lain, seperti jagung, singkong, serta sumber protein untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Langkah ini dinilai sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menghadapi tantangan global di sektor pangan dan energi. (KS01)

Tags

Terkini