ekonomi-bisnis

Perbanas Sambut Positif Keputusan BI Turunkan Suku Bunga Acuan Agustus 2025

KS1
Jumat, 22 Agustus 2025 | 09:01 WIB
Perbanas Sambut Positif Keputusan BI Turunkan Suku Bunga Acuan Agustus 2025. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM  – Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai langkah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan (BI Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2025 sebagai keputusan yang tepat.

Pemangkasan bunga dinilai sejalan dengan stabilnya nilai tukar rupiah serta kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik.

BI resmi menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen, dengan suku bunga deposit facility turun ke 4,25 persen dan lending facility ke 5,75 persen.

Menurut Kepala Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, Aviliani, kondisi rupiah yang stabil dan masuknya kembali investor asing menjadi sinyal kuat bagi pelonggaran kebijakan moneter.

“Rupiah saat ini cenderung stabil, dan investor asing sudah mulai masuk. Itu menjadi sinyal positif bagi pelonggaran kebijakan moneter,” ujar Aviliani, Kamis 21 Agustus 2025, dilansir Voiceofnusantara, jejaring KlikSoloNews.

Aviliani menambahkan, faktor global juga memberi ruang bagi BI. Ia menyoroti kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai masih penuh ketidakpastian.

“Dengan kebijakan yang berubah-ubah di AS, dolar tidak akan banyak kembali ke sana. Ini menguntungkan bagi stabilitas rupiah dan mendukung kebijakan BI untuk menurunkan suku bunga,” jelasnya.

Dampak ke Perbankan dan LPS

Perbanas mendorong agar Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) turut memangkas tingkat penjaminan simpanan. Pasalnya, tingkat bunga simpanan bank acuan juga dipengaruhi oleh suku bunga penjaminan LPS.

“Pemangkasan BI Rate sebaiknya diikuti LPS agar memberikan ruang lebih bagi perbankan,” tambah Aviliani.

Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kini tak lagi menjadi primadona sektor perbankan. Data per 15 Agustus 2025 menunjukkan volume lelang SRBI turun ke Rp720,01 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan posisi awal tahun Rp916,97 triliun.

Sebaliknya, obligasi pemerintah masih menawarkan imbal hasil menarik di kisaran 6,3–6,4 persen, sehingga menjadi alternatif investasi masyarakat.

Harapan Perbanas

  • Pelonggaran kebijakan moneter ini diharapkan mampu:

  • Memperkuat sektor perbankan nasional.

  • Menjaga daya beli masyarakat.

  • Meningkatkan likuiditas perbankan.

  • Mendukung arus investasi di tengah kondisi global yang dinamis.


“Sekarang masyarakat punya pilihan, apakah menyimpan dana di bank atau membeli obligasi ritel. Itu tergantung preferensi risikonya,” kata Aviliani. (KS01)

Tags

Terkini