ekonomi-bisnis

Jeffrey Sachs: China Unggul dalam Perang Dagang, Kebijakan Tarif Trump Dinilai Kontraproduktif

KS1
Senin, 14 April 2025 | 10:00 WIB
Jeffrey Sachs: China Unggul dalam Perang Dagang, Kebijakan Tarif Trump Dinilai Kontraproduktif. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM — Ekonom senior asal Amerika Serikat, Jeffrey Sachs, menyatakan bahwa China berada dalam posisi yang lebih kuat dalam konflik perdagangan yang terus berlangsung dengan Amerika Serikat.

Hal ini disampaikan dalam Forum Diplomatik Antalya yang digelar Jumat 11 April 2025, di tengah meningkatnya tensi ekonomi antara dua negara adidaya tersebut.

“Dalam perang dagang antara AS dan China, China menang. China tidak terlalu bergantung pada pasar AS,” ujar Sachs, yang juga merupakan profesor ekonomi di Universitas Columbia dilansir Voiceofnusantara, jejaring KlikSoloNews.

Ia menilai konfrontasi ekonomi seperti ini hanya akan menciptakan kerugian di kedua pihak. Menurutnya, saling memutus rantai dagang justru tidak sejalan dengan prinsip-prinsip ekonomi global yang saling terhubung.

Pernyataan Sachs muncul hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperkenalkan kebijakan tarif “timbal balik” terhadap berbagai produk impor. Kebijakan ini diumumkan melalui perintah eksekutif yang ditandatangani pada 2 April 2025.

Dalam kebijakan tersebut, AS menetapkan tarif dasar sebesar 10 persen untuk seluruh produk impor. Namun, bagi negara-negara dengan defisit perdagangan yang tinggi terhadap AS, akan diberlakukan tarif tambahan yang lebih besar.

Namun hanya berselang sepekan, Trump kembali mengubah pendekatannya. Pada 9 April, ia mengumumkan bahwa tarif akan diturunkan kembali menjadi 10 persen secara merata untuk semua negara — kecuali China. Penurunan tarif ini bersifat sementara dan berlaku selama 90 hari.

Trump mengklaim keputusan tersebut diambil karena lebih dari 75 negara telah meminta negosiasi bilateral dan tidak melakukan aksi balasan terhadap kebijakan perdagangan AS.

China Tetap Jadi Target Utama

Berbeda dengan negara-negara lain, China tetap menjadi sasaran utama kebijakan tarif tinggi AS. Sejak kembali menduduki Gedung Putih untuk periode kedua, Trump diketahui menaikkan tarif barang-barang dari China hingga 145 persen.

Langkah agresif ini dinilai sebagai bagian dari strategi ekonomi “America First” yang bertujuan untuk menekan defisit perdagangan AS. Namun banyak analis, termasuk Sachs, menilai pendekatan tersebut justru memperbesar risiko resesi global dan memperburuk hubungan bilateral.

“Langkah-langkah seperti ini mungkin tampak patriotik secara politik, namun secara ekonomi justru kontraproduktif,” imbuh Sachs.

Ketegangan perdagangan ini tidak hanya memengaruhi kedua negara, tetapi juga mengganggu stabilitas pasar global, termasuk rantai pasok internasional dan harga barang kebutuhan pokok. Para pengamat menyarankan agar kedua negara kembali ke meja perundingan dan mendorong kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Tags

Terkini