Jumat, 12 Juni 2026

Terdampak Tarif Trump, Industri Furnitur Jepara Terancam Lesu

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Jumat, 11 Juli 2025 | 16:09 WIB
Terdampak Tarif Trump, Industri Furnitur Jepara Terancam Lesu. (KlikSoloNews/dok JatengNOW-Nurcahyo)
Terdampak Tarif Trump, Industri Furnitur Jepara Terancam Lesu. (KlikSoloNews/dok JatengNOW-Nurcahyo)

JEPARA, KLIKSOLONEWS.COM — Terdampak tarif Trump, industri furnitur Jepara terancam lesu.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi memberlakukan tarif impor sebesar 32% terhadap produk asal Indonesia yang masuk ke pasar mereka, mulai 1 Agustus 2025.

Kebijakan ini memberikan pukulan berat bagi sejumlah sektor industri, tak terkecuali industri mebel dan furnitur dari Jepara, Jawa Tengah, yang selama ini sangat bergantung pada ekspor ke AS.

Bupati Jepara Witiarso Utomo atau yang akrab disapa Mas Wiwit mengungkapkan, ekspor ke pasar AS menyumbang sekitar 54 persen dari total ekspor mebel Jepara. Oleh karena itu, kebijakan tarif ini dinilai sangat memengaruhi pelaku usaha di daerahnya.

"Dari Kabupaten Jepara untuk industri mebel dan furnitur, kami untuk pasar AS ini 54% kurang lebih. Jadi cukup signifikan bagi kami untuk tarif itu, dampaknya cukup luar biasa," ujar Mas Wiwit, Jumat 11 Juli 2025, dilansir jatengNOW, jejaring KlikSoloNews.

Ia menambahkan, sejak pelantikan kembali Presiden Donald Trump, permintaan produk mebel dari Jepara memang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penurunan pesanan bahkan mencapai 50% untuk pasar AS pada beberapa perusahaan.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, Pemkab Jepara telah mengambil sejumlah langkah strategis. Di antaranya dengan menggandeng Kementerian Luar Negeri RI dalam upaya membuka pasar alternatif di luar AS.

"Kemarin dari pihak Kementerian Luar Negeri juga sudah kita hadirkan ke Jepara, bertemu dengan para pengusaha untuk membuka pasar-pasar di luar AS," ungkapnya.

Delegasi Kemenlu RI disebut telah mencakup 104 negara di kawasan Timur Tengah, Asia-Pasifik, dan Afrika. Pemerintah berencana menjajaki potensi pasar baru di negara-negara tersebut guna menjaga kelangsungan ekspor mebel Jepara.

Mas Wiwit juga berencana menggelar audiensi dengan Kementerian Perdagangan RI guna mengoptimalkan peran Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Harapannya, ITPC dapat membantu industri mebel Jepara menembus pasar-pasar alternatif.

Bagi Beban dengan Buyer

Untuk menjaga daya saing produk Jepara, salah satu solusi yang ditawarkan adalah bagi beban tarif antara pihak produsen dan pembeli.

"Ini sudah ada diskusi, bahwa kalau bisa dihitung ini akan ditanggung bersama. 50 persen itu buyer, 50 persen itu kami di Jepara," terang Mas Wiwit.

Namun, lanjutnya, kondisi pasar ke depan masih sangat tergantung pada daya beli konsumen AS setelah penerapan tarif baru. Kenaikan harga akibat tarif diyakini bisa mencapai 16,5 persen di tingkat konsumen akhir.

"Kalau untuk dampak itu sudah ada. Mulai dari Presiden Trump dilantik itu karyawan sudah mulai on-off. Kalau sampai gulung tikar, ini belum ada," pungkasnya.

Mas Wiwit berharap pelaku industri dan pasar global bisa beradaptasi dengan kebijakan baru tersebut. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha agar dampak kebijakan ekonomi AS ini tidak meluas dan memicu krisis industri. (KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X