JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan kesiapan penuh untuk menghadapi gejolak pasar yang dipicu kebijakan tarif impor Amerika Serikat atau disebut Tarif Trump terhadap Indonesia.
Langkah ini diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan tajam sebagai respons atas ketidakpastian global.
Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa pihaknya terus memantau kondisi pasar global dan siap melakukan penyesuaian bila diperlukan demi menjaga stabilitas dan likuiditas pasar modal dalam negeri.
“Kita sama-sama memantau perkembangan di pasar global. Kalau memang nanti dirasa atau disepakati diperlukan penyesuaian-penyesuaian lain, kenapa tidak?” kata Jeffrey dilansir Voiceofnusantara, jejaring KlikSoloNews, Rabu 9 April 2025.
Salah satu langkah yang tengah dikaji BEI adalah keterbukaan informasi lebih lanjut melalui pembukaan kode Anggota Bursa (broker) dan domisili investor pada tampilan sistem perdagangan daring (online trading).
Kebijakan ini dinilai dapat membantu investor, khususnya ritel, dalam membaca arah pergerakan pasar dan mengurangi kepanikan berlebih.
“Itu (pembukaan kode broker) termasuk yang sedang kita diskusikan secara intensif dengan OJK untuk bisa kita berikan sebagai informasi tambahan kepada investor,” jelas Jeffrey.
Langkah ini menjadi salah satu bagian dari upaya menciptakan transparansi yang lebih tinggi di tengah tekanan eksternal yang semakin kompleks.
Jeffrey juga mengingatkan BEI bersama OJK telah mengambil sejumlah langkah mitigatif sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah:
Penyesuaian aturan penghentian sementara perdagangan efek (trading halt) dan batas Auto Rejection Bawah (ARB) yang diberlakukan mulai 8 April 2025.
Kebijakan pelaksanaan buyback saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang diumumkan pada 19 Maret 2025.
Penundaan implementasi perdagangan short selling untuk menghindari spekulasi berlebihan.
“Apapun penyesuaian yang perlu kita lakukan, bisa kita lakukan. Ini demi menjaga kepercayaan investor,” tegas Jeffrey.
Pada perdagangan Selasa 8 April 2025, IHSG dibuka anjlok sebesar 596,33 poin atau 9,16 persen ke level 5.914,28.
Penurunan signifikan ini disebabkan kekhawatiran investor atas kebijakan tarif impor dari Presiden AS, Donald Trump, yang mengenakan tarif balasan sebesar 32 persen terhadap sejumlah produk dari Indonesia.
Kondisi ini menciptakan tekanan besar terhadap sektor-sektor industri ekspor Indonesia dan mendorong aksi jual massal oleh investor di bursa domestik.
BEI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasar modal nasional dengan terus berkoordinasi erat bersama OJK dan pelaku industri. Meski tantangan global terus berkembang, pasar Indonesia diharapkan tetap menjadi pilihan yang menarik bagi investor domestik maupun asing.
“Situasi seperti ini butuh ketenangan dan kolaborasi semua pihak agar kita bisa melewati tekanan dengan stabil,” tutup Jeffrey.(KS01)