BOYOLALI, KLIKSOLONEWS.COM – Tradisi budaya Sedekah Gunung Merapi kembali digelar oleh masyarakat Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Ritual tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi salah satu agenda budaya unggulan yang terus dilestarikan oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali bersama masyarakat lereng Merapi.
Kegiatan yang berlangsung di Joglo Merapi I, Desa Lencoh, Selasa (16/6/2026) malam tersebut dihadiri Bupati Boyolali, Agus Irawan, Wakil Bupati Boyolali Dwi Fajar Nirwana, jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah Kabupaten Boyolali, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
Tradisi Sedekah Gunung Merapi tidak hanya menjadi daya tarik masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan mancanegara yang ingin menyaksikan secara langsung ritual budaya khas lereng Merapi tersebut.
Baca Juga: Ikuti Kirab 1 Suro Mangkunegaran, Respati Ajak Warga Solo Refleksi Diri
Salah satu prosesi utama dalam Sedekah Gunung Merapi adalah penanaman kepala kerbau beserta sesaji di kawasan Gunung Merapi.
Ritual ini dipercaya masyarakat sebagai simbol permohonan keselamatan dan perlindungan dari ancaman bencana alam, khususnya erupsi gunung berapi.
Sesepuh Adat Desa Lencoh, Paiman Hadi Martono, menjelaskan bahwa tradisi tersebut telah diwariskan oleh para leluhur yang tinggal di kawasan lereng Merapi.
“Ini kan tujuannya tolak bala, seandainya Merapi itu sewaktu-waktu mengeluarkan abu, mudah-mudahan di sekitar Merapi tidak kena dampaknya,” ujarnya.
Menurut Paiman, sejak erupsi besar Merapi tahun 2010, lokasi penanaman kepala kerbau tidak lagi dilakukan di puncak gunung karena perubahan kondisi medan. Kini prosesi tersebut dilaksanakan di kawasan Pasar Bubrah yang berada di jalur pendakian Merapi.
Sembilan Gunungan Lambangkan Wali Sanga
Selain kepala kerbau, masyarakat Desa Lencoh juga menyiapkan sembilan gunungan atau tumpeng yang dikirab sebelum acara puncak dimulai.
Baca Juga: Tradisi 1 Suro Solo Memukau Warga, Jalanan Penuh Penonton hingga Air Jamasan Diperebutkan
Gunungan tersebut merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesuburan tanah dan hasil pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat lereng Merapi.