"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga saya di Lombok, khususnya masyarakat Suku Sasak, para relawan, volunteer, porter, dan semua pihak yang merasa tersinggung akibat unggahan tersebut," ujar Panji dalam klarifikasinya.
Komunitas Rinjani Soroti Etika dan Pengakuan Kolektif
Sementara itu, Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani sekaligus perwakilan Ganas Lombok Timur, Royal Sembahulun, menjelaskan bahwa keberatan mereka bukan didasari persoalan materi, melainkan soal etika dan penghargaan terhadap kerja kolektif.
Menurutnya, operasi penyelamatan Juliana Marins melibatkan sedikitnya tujuh relawan, tim SAR, porter, masyarakat adat, serta berbagai unsur lain yang bekerja bersama dalam kondisi sulit.
Karena itu, komunitas lokal menolak jika narasi yang berkembang hanya berfokus pada satu individu dan mengesampingkan kontribusi pihak lain yang turut berjasa.
Royal juga menilai penggunaan gelar seperti "Pahlawan Rinjani" atau "Pawang Rinjani" kepada satu orang berpotensi mengaburkan fakta bahwa penyelamatan tersebut merupakan hasil kerja sama banyak pihak.
Selain itu, komunitas Lingkar Rinjani turut mempertanyakan transparansi pengelolaan donasi kemanusiaan serta sejumlah program pasca-evakuasi yang sebelumnya pernah disampaikan kepada publik.
Baca Juga: Donasi Rp 1,5 M untuk Pemandu Agam Rinjani Resmi Dibatalkan, Platform Asal Brasil Tuai Kontroversi
\Setelah muncul penolakan dari berbagai pihak, rencana pembuatan dokumentasi satu tahun evakuasi Juliana Marins bersama Agam Rinjani akhirnya dibatalkan.
Panji berharap klarifikasi dan permintaan maaf yang disampaikannya dapat meredakan kesalahpahaman serta menjaga hubungan baik dengan masyarakat Lombok dan komunitas pelestari Gunung Rinjani.
Ia juga mendoakan seluruh relawan, porter, masyarakat adat, dan petugas lapangan yang selama ini menjaga keselamatan pendaki serta kelestarian kawasan Rinjani agar selalu diberikan kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas mereka.
Polemik ini menjadi pengingat penting bahwa setiap dokumentasi mengenai peristiwa kemanusiaan perlu memperhatikan sensitivitas sosial, menghargai kerja kolektif, dan memberikan ruang yang proporsional bagi seluruh pihak yang terlibat.(*)
Artikel Terkait
Jenazah Diduga Yasid Ahmad Firdaus Ditemukan di Aliran Sungai Mitis Lereng Gunung Lawu
Pemprov Jateng Cetak Pemandu Gunung Profesional, Peluang Kerja dari Tren Wisata Alam Meningkat
BIKIN MALU! Viral Ketegangan Pendaki di Puncak Gunung Lawu, Dipicu Antrean Foto di Tugu Hargo Dumilah
Aturan Baru Pendakian Gunung Lawu: Open Trip Wajib Pakai Guide hingga Pendaki Tektok Harus Pasang Strava
Bikin Takjub! Ribuan Motor Pendaki Gunung Prau Parkir Super Rapi, Helm Dibungkus Plastik Tuai Pujian
Pendaki Gunung Merbabu Asal Bandungan Meninggal di Jalur Selo, Polisi Tidak Temukan Tanda Kekerasan