Jumat, 12 Juni 2026

Rayakan HUT ke-53, PDIP Kota Solo Angkat Suara Wong Cilik Lewat Wayang Kampung Sebelah

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Minggu, 1 Februari 2026 | 15:32 WIB
Rayakan HUT ke-53, PDIP Kota Solo Angkat Suara Wong Cilik Lewat Wayang Kampung Sebelah. (KlikSoloNews/Adhirajsa)
Rayakan HUT ke-53, PDIP Kota Solo Angkat Suara Wong Cilik Lewat Wayang Kampung Sebelah. (KlikSoloNews/Adhirajsa)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 PDI Perjuangan Kota Surakarta dimaknai secara berbeda melalui pagelaran budaya Wayang Kampung Sebelah bersama masyarakat.


Acara yang digelar di Sasono Krido, Kompleks Pendopo Mangkubumen, Sabtu (30/1/2026) ini menjadi medium refleksi politik sekaligus ruang mendengar aspirasi wong cilik.


Alih-alih sekadar seremoni, perayaan HUT kali ini dikemas sebagai dialog kultural antara partai dan rakyat. Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surakarta, Aria Bima, menyebut usia ke-53 sebagai fase penting untuk menilai kembali peran partai di tengah masyarakat.


“Di usia 53 tahun, PDI Perjuangan berada di titik refleksi. Ini saat yang tepat untuk menilai apa yang sudah dan belum kami lakukan, khususnya untuk warga Kota Solo,” kata Aria Bima.


Aria Bima menuturkan, PDI Perjuangan memiliki keterikatan sejarah yang panjang dengan Kota Surakarta. Selama hampir lima periode, PDIP terlibat aktif dalam proses pembangunan kota melalui jalur politik dan kebijakan publik.


Menurutnya, ke depan PDIP tetap ingin mengambil peran sebagai mitra strategis Pemerintah Kota Surakarta, dengan fokus pada kebijakan yang berpihak kepada rakyat, sejalan dengan semangat kebhinnekaan dan multikulturalisme.


“Solo adalah kota multikultural. Harapannya ke depan Solo semakin guyub, teduh, dan mampu membangun peradaban budaya yang kuat,” ujarnya.


Lebih lanjut, Aria Bima menilai tantangan terbesar partai politik saat ini bukan terletak pada kemenangan elektoral, melainkan merosotnya kepercayaan publik terhadap partai dan lembaga legislatif.


“Kepercayaan publik terhadap partai politik dan DPR berada di titik rendah. Ini pekerjaan rumah besar yang tidak bisa diselesaikan satu partai saja,” tegasnya.


Fenomena tersebut, lanjut Ario, semakin terlihat dari meningkatnya sikap apatis masyarakat, khususnya generasi muda. Bahkan, berdasarkan survei, mayoritas Generasi Z menyatakan tidak tertarik dengan partai politik.


“Kalau generasi mudanya tidak percaya partai, maka demokrasi akan kehilangan fondasinya,” tambahnya.


Pemilihan Wayang Kampung Sebelah dalam perayaan HUT ke-53 PDIP Kota Surakarta disebut bukan tanpa alasan. Menurut Aria Bima, wayang ini merepresentasikan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari, bukan kisah elit kekuasaan.


“Isinya tentang kesehatan, MCK, daya beli, pendidikan, hingga kebutuhan pokok. Itulah suara rakyat yang ingin kami dengarkan,” ujarnya.


Kisah yang dikemas dengan pendekatan kontekstual membuat pertunjukan ini menjadi kritik sosial yang membumi, sekaligus sarana komunikasi politik yang lebih jujur dan dekat dengan rakyat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X