Jumat, 12 Juni 2026

Doa Bersama Masyarakat di Plaza Sriwedari, BRM Kusumo Putro: Jangan Biarkan Segelintir Orang Rusak Kota Solo, Polisi Harus Tegas!

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Jumat, 12 September 2025 | 07:00 WIB
Doa Bersama Masyarakat di Plaza Sriwedari, BRM Kusumo Putro: Jangan Biarkan Segelintir Orang Rusak Kota Solo, Polisi Harus Tegas! (KlikSoloNews/Adhirajasa)
Doa Bersama Masyarakat di Plaza Sriwedari, BRM Kusumo Putro: Jangan Biarkan Segelintir Orang Rusak Kota Solo, Polisi Harus Tegas! (KlikSoloNews/Adhirajasa)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Ratusan warga dari berbagai organisasi masyarakat berkumpul di Plaza Sriwedari, Kamis 11 September 2025, sore, untuk menggelar doa bersama atau umbul dungo.

Agenda ini menjadi simbol keprihatinan sekaligus ikhtiar moral agar Kota Solo kembali aman dan kondusif pasca-kerusuhan yang sempat mengguncang beberapa waktu lalu.

Kerusuhan tersebut meninggalkan luka mendalam, fasilitas umum rusak, pos polisi dibakar di sejumlah titik, hingga Gedung Setwan DPRD Kota Solo ikut hangus terbakar.

Dari kejadian tersebut mendorong masyarakat untuk bangkit dan kembali merawat kedamaian di Kota Bengawan.

Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM) Surakarta, BRM Kusumo Putro SH MH, menegaskan umbul dungo bukan sekadar ritual, melainkan wujud nyata kepedulian warga.

“Solo dibangun sebagai kota budaya melalui kerja keras puluhan tahun. Jangan biarkan citra ini hancur hanya karena ulah segelintir orang yang bahkan bukan asli Solo,” tegas Kusumo yang dikenal sebagai pengacara terkenal di Kota Solo.

Sebagai tokoh masyarakat sekaligus advokat, ia juga mendorong aparat penegak hukum segera mengusut tuntas kasus kerusuhan.

“Siapa pun pelakunya harus diproses sesuai hukum. Solo adalah kota damai, bukan tempat kekacauan,” tambahnya.

Ia turut mengingatkan pejabat agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan. “Ucapan yang merendahkan masyarakat justru bisa memicu amarah dan memperburuk keadaan,” katanya.

Pejabat Absen Jadi Sorotan

Ketua Umum Persatuan Anak Bangsa Surakarta (PABS), Dosy Marta, selaku penggagas acara, menyayangkan ketidakhadiran pejabat Solo meski undangan sudah disampaikan.

“Seharusnya doa bersama ini bisa menjadi momentum bagi pejabat, wakil rakyat, dan warga untuk duduk bersama menjaga Solo tetap kondusif,” ucap Dosy.

Ia juga menyoroti sikap sebagian wakil rakyat yang dinilai jauh dari masyarakat setelah duduk di kursi jabatan. “Dulu mereka rajin mendatangi warga untuk mencari dukungan. Tapi saat rakyat menghadapi kesulitan ekonomi, mereka seolah menutup mata,” kritiknya.

Acara doa bersama ini dihadiri beragam elemen, mulai dari anggota Ikatan Prabu Nusantara (IPN), pedagang, tukang becak, juru parkir, hingga warga biasa. Kehadiran mereka mencerminkan semangat kebersamaan menjaga Solo tetap rukun.

Melalui umbul dungo, masyarakat berharap insiden kelam itu menjadi yang terakhir. Solo diharapkan kembali dikenal bukan sebagai kota konflik, melainkan sebagai kota budaya yang damai, ramah, dan penuh gotong royong.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X