Jumat, 12 Juni 2026

Senja Bahagia di Rumah Wagiman: Gubernur Jateng Beri Harapan Baru dari Balik Rumah Kayu yang Lapuk di Boyolali 

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Jumat, 16 Mei 2025 | 11:30 WIB
Senja Bahagia di Rumah Wagiman: Gubernur Jateng Beri Harapan Baru dari Balik Rumah Kayu yang Lapuk di Boyolali. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)
Senja Bahagia di Rumah Wagiman: Gubernur Jateng Beri Harapan Baru dari Balik Rumah Kayu yang Lapuk di Boyolali. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)

BOYOLALI, KLIKSOLONEWS.COM – Di sudut dusun yang sepi di Boyolali, rumah sederhana berdinding kayu tua itu tampak tak menonjol.

Tapi Kamis sore, 15 Mei 2025, rumah itu menjadi saksi bisu tumpahnya haru bahagia sepasang lansia yang nyaris kehilangan harapan.

Adalah Wagiman (67) dan istrinya Samiyem (65), penghuni setia rumah kecil berukuran 6x12 meter itu, yang hari itu menyambut tamu istimewa, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Senyum mereka merekah ketika Ahmad Luthfi duduk di balai-balai rumahnya yang sederhana. Sambil bercakap santai dengan bahasa Jawa halus, Luthfi menanyakan keseharian mereka, menelusuri kisah lama yang melekat pada rumah kayu lapuk yang nyaris roboh itu.

“Sampun pinten taun tinggal mriki? Nak sare wonten pundi?” tanya Luthfi dengan ramah.
(Sudah berapa tahun tinggal di sini? Kalau tidur di mana?)

Wagiman hanya tertawa pelan, tersipu malu. “Sampun dangu, Pak… Puluhan tahun. Nggih mpun biasa.” (Sudah lama, Pak. Puluhan tahun. Sudah biasa.)

Di sinilah mereka menjalani hari-hari tuanya. Tanpa anak, tanpa banyak harta, hanya bergantung pada kesabaran dan kebersamaan.

Lantai tanah yang dingin menjadi tempat mereka merebahkan badan, sementara atap reyot dari bambu dan genting yang bocor seolah tak mampu lagi melindungi dari dingin malam dan derasnya hujan.

Namun hari itu, semua berubah. Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa rumah mereka akan direnovasi. Tidak hanya ucapan, tetapi menjadi bagian dari program bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH) yang akan dimulai minggu depan.

“Nanti rumahnya mau diperbaiki nggih?” ucap Luthfi pelan namun pasti.

Seketika, mata Samiyem memerah. Air matanya jatuh. Ia menggenggam tangan Wagiman erat.

“Remen sanget… matur nuwun sanget, Pak Gubernur,” katanya lirih. (Senang sekali… Terima kasih banyak, Pak Gubernur.)

Selama ini, mereka bahkan sempat menolak bantuan. Rasa segan dan takut merepotkan membuat mereka urung menerima ketika tim survei dari Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperakim) datang pertama kali.

Tapi sentuhan pribadi dari Gubernur, perhatian tulus yang diberikan langsung di depan mata, akhirnya meluluhkan hati mereka.

Gubernur Luthfi tak hanya berhenti pada janji. Ia menelusuri bagian demi bagian rumah Wagiman, mencatat apa yang harus diperbaiki.

Rumah itu adalah satu dari 322 unit RTLH di Kabupaten Boyolali yang akan direnovasi, masing-masing dengan bantuan Rp20 juta.

“Tahun ini kita targetkan 17.000 unit RTLH di seluruh Jateng dibantu. Kita kejar agar masyarakat miskin ekstrem bisa hidup lebih layak,” kata Luthfi.

Tak hanya di Boyolali, program ini menyentuh seluruh Jawa Tengah. Hingga 2024, sudah 1,2 juta unit rumah dibangun atau direnovasi. Namun masih ada lebih dari satu juta unit lagi yang menanti sentuhan.

Oleh karena itu, Pemprov Jateng menggandeng banyak pihak: pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga TNI dan Polri.

Di balik cerita Wagiman dan Samiyem, tersimpan gambaran lebih besar: sebuah ikhtiar masif membangun negeri dari pinggiran. Membangun bukan hanya fisik, tapi juga martabat dan harapan. Dari rumah reyot yang hampir rubuh, tumbuh semangat baru untuk hidup lebih baik.

Di senja itu, Boyolali tak hanya menjadi latar kunjungan kerja seorang gubernur. Tapi menjadi panggung kecil tentang kasih sayang, harapan, dan bukti bahwa negara hadir di rumah-rumah yang nyaris terlupakan.(ks01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X