Jumat, 12 Juni 2026

Seniman Multigenerasi Pentaskan Suara Kartini Hidup Kembali lewat Terbitlah Terang

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Rabu, 23 April 2025 | 13:32 WIB
Seniman Multigenerasi Pentaskan Suara Kartini Hidup Kembali lewat Terbitlah Terang. (KlikSoloNews/dok ImageDynamics)
Seniman Multigenerasi Pentaskan Suara Kartini Hidup Kembali lewat Terbitlah Terang. (KlikSoloNews/dok ImageDynamics)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM — Dalam suasana peringatan Hari Kartini, Museum Nasional Indonesia menjadi saksi lahirnya kembali semangat Raden Ajeng Kartini dalam pementasan bertajuk Terbitlah Terang: Pembacaan Surat dan Gagasan Kartini.

Digagas Titimangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation, pementasan ini menghadirkan suara-suara Kartini melalui lantunan surat-suratnya yang dibacakan para seniman lintas generasi.

Tak sekadar mengenang, pementasan ini menjadi ruang reflektif untuk menggali kembali keberanian, pemikiran, dan nurani Kartini—seorang perempuan visioner yang melampaui zamannya.

“Surat-surat Kartini adalah cahaya yang tak pernah padam. Melalui pementasan ini, kami ingin menghidupkan kembali semangatnya yang jujur, berani, dan menggugah,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Dalam format monolog, para seniman besar seperti Christine Hakim, Ratna Riantiarno, Reza Rahadian, Marsha Timothy, Maudy Ayunda, hingga generasi muda seperti Lutesha, Cinta Laura, dan Chelsea Islan membacakan surat-surat Kartini dengan penghayatan mendalam.

Di bawah arahan sutradara Sri Qadariatin, mereka menghadirkan kembali suara-suara Kartini yang tak hanya menyuarakan kesetaraan perempuan, namun juga keadilan sosial, kebebasan berpikir, dan cinta terhadap tanah air.

“Hari ini, kita tidak hanya membaca sejarah. Kita mendengarnya, merasakannya, dan menjadikannya bagian dari kesadaran hari ini. Kartini adalah suara yang melampaui waktu,” kata Happy Salma, pendiri Titimangsa, yang juga tampil dalam epilog pementasan.

Surat-surat yang dibacakan diambil dari buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer dan Kartini: Kumpulan Surat-surat 1899–1904 oleh Wardinam Djoyonegoro.

Korespondensi Kartini kepada sahabat-sahabatnya seperti Stella Zeehandelaar dan keluarga Abendanon menjadi inti dari narasi.

Isinya menggambarkan kegelisahan seorang Kartini terhadap pendidikan, ketimpangan sosial, dan keterbatasan perempuan di zamannya—topik yang tetap relevan hingga kini.

Christine Hakim dan Marsha Timothy menyoroti gagasan Kartini tentang pentingnya pendidikan, sedangkan Cinta Laura, Chelsea Islan, dan Bagus Ade Putra menggali pemikiran Kartini tentang bias gender dan harga diri perempuan.

-
Seniman Multigenerasi Pentaskan Suara Kartini Hidup Kembali lewat Terbitlah Terang. (KlikSoloNews/dok ImageDynamics)

Kritik sosial Kartini diangkat oleh Maudy Ayunda dan Reza Rahadian, menyoroti dampak kebijakan pemerintah terhadap rakyat dan lingkungan. Epilog yang disampaikan Happy Salma menutup pementasan dengan nada reflektif, menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan.

Tak hanya menjadi pementasan sastra, Terbitlah Terang juga menjadi pembuka pameran SUNTING: Jejak Perempuan Indonesia Penggerak Perubahan, yang berlangsung mulai 22 April hingga 31 Juli 2025 di Museum Nasional Indonesia.

Pameran ini menjadi penghormatan atas kontribusi perempuan seperti Kartini dan Rohana Kudus dalam membangun bangsa dan menyuarakan perubahan sosial.

“Merayakan Kartini bukan hanya soal mengenang. Ini tentang menjadikan semangatnya sebagai kompas moral dan intelektual untuk generasi kini dan nanti,” pungkas Sri Qadariatin.

Melalui suara dan sastra, Kartini kembali hadir bukan hanya sebagai simbol, tapi sebagai penggerak—terang yang terus menyala di tengah zaman yang terus berubah.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X