Jumat, 12 Juni 2026

Temui Wagub Jateng, Paguyuban Disabilitas Wadul Mahalnya Kaki Palsu

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Selasa, 22 April 2025 | 12:30 WIB
Temui Wagub Jateng, Paguyuban Disabilitas Wadul Mahalnya Kaki Palsu. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)
Temui Wagub Jateng, Paguyuban Disabilitas Wadul Mahalnya Kaki Palsu. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)

SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM – Mahalnya harga kaki palsu menjadi salah satu hambatan besar bagi penyandang disabilitas, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Hal ini disampaikan langsung Vita, penggagas program dari Paguyuban Peduli Penyandang Disabilitas (P3D) saat audiensi dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, di Semarang.

Dalam pertemuan itu, Vita—yang akrab disapa Cikgu—menjelaskan bahwa program mereka bertujuan menyediakan kaki palsu dan sepatu khusus bagi penyandang cerebral palsy. Program ini sudah pernah berjalan lewat kerja sama dengan Dinas Sosial, namun terbatasnya anggaran membuat distribusi bantuan belum merata.

“Harga kaki palsu itu fantastis. Sementara kebutuhan teman-teman ini bersifat jangka panjang. Kami ingin bantu dengan harga yang bisa dijangkau,” ujar Vita.

Menurutnya, kaki palsu buatan komunitas P3D menggunakan bahan nilon yang lebih terjangkau dibanding resin. Selain itu, desainnya memungkinkan perbaikan mandiri sehingga meningkatkan kemandirian para penyandang disabilitas.

Jika harga kaki palsu di pasaran bisa mencapai Rp7 juta lebih, P3D menargetkan harga sekitar Rp3,5 juta. Saat ini, ada 12 penyandang disabilitas yang masuk dalam daftar tunggu bantuan mereka.

Wagub Jateng, Taj Yasin menyambut baik program tersebut dan langsung mengambil langkah cepat. Di tengah audiensi, ia menghubungi pihak Baznas untuk menyampaikan rencana tersebut.

“Alhamdulillah, Baznas siap bantu. Tinggal menunggu data lengkap dan kita bersurat. Kita juga akan libatkan CSR serta koordinasi dengan OPD dan kabupaten/kota agar program ini bisa menjangkau lebih luas,” ujarnya.

Rencana bakti sosial ini ditargetkan dimulai pada Mei dan rampung paling lambat Juli 2025, mengingat batas waktu pengadaan bahan dari India tidak bisa melewati Agustus.

Secara teknis, proses pembuatan kaki palsu dimulai dari pengukuran, produksi, hingga fitting, dengan syarat peserta melampirkan surat keterangan dari rumah sakit yang menunjukkan kondisi amputasi.

“Ini bukan hanya soal alat bantu. Tapi soal hak untuk hidup lebih layak dan mandiri,” tegas Vita. (ks01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X