Selain pompanisasi, Presiden Jokowi juga merencanakan penggunaan rekayasa cuaca untuk menciptakan hujan buatan guna mencegah dampak kekeringan yang lebih parah.
"Kita harapkan dengan adanya water management dan rekayasa cuaca, dampak kekeringan bisa diatasi," tambahnya.
Pj Bupati Karanganyar Timotius Suryadi menyampaikan bahwa Kabupaten Karanganyar menerima 61 unit alat pompanisasi. Alat ini akan digunakan untuk membantu pengairan sawah yang masih mengandalkan sistem tadah hujan.
"Kabupaten Karanganyar memiliki luas lahan sawah 19.945,67 hektare. Dari jumlah tersebut, 12.926 hektare adalah lahan sawah irigasi, sedangkan 7.019 hektare adalah sawah non-irigasi. Harapannya, dengan bantuan ini, pengairan bisa lebih optimal," ungkapnya.
Timotius juga mengharapkan peningkatan produksi padi di tahun 2024. Tahun sebelumnya, produksi padi di Karanganyar mampu mencapai surplus 150.000 ton.
"Di tahun 2024 ini, kami berharap produksi padi meningkat. Tahun lalu, kita mampu surplus 150.000 ton beras," tambahnya.
Ketua Kelompok Tani Guyub Rukun Sangiran, Desa Krendowahono, Setu Wibowo, mengatakan bahwa selama ini pengairan sawah di desanya hanya mengandalkan tadah hujan untuk lahan non-irigasi seluas 10 hektare.
"Panen hanya sekali dalam setahun karena mengandalkan tadah hujan. Dengan adanya bantuan pompanisasi, kami berharap bisa panen dua hingga tiga kali dalam setahun," ujarnya.