Jumat, 12 Juni 2026

Sebuah Pertanyaan untuk Mas Gibran dari Prihati Utami: Kenapa Mengkhianati Partai?

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Senin, 20 November 2023 | 20:30 WIB
Ganjar Usul Hak Angket Kecurangan Pilpres 2024, Gibran: Terbuka untuk Kritikan dan Evaluasi. (KlikSoloNews/dok)
Ganjar Usul Hak Angket Kecurangan Pilpres 2024, Gibran: Terbuka untuk Kritikan dan Evaluasi. (KlikSoloNews/dok)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Pencalonan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden (cawapres) dari Prabowo Subianto masih menuai pro kontra.

Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut resmi menjadi cawapres Prabowo seusai ditetapkan KPU pada Selasa 16 November 2023. Namun, pencalonanya masih menyisakan pertanyaan besar bagi masyarakat.

Hal ini karena Gibran bisa maju menjadi cawapres dengan landasan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang kontroversial.

Pencalonan Gibran jadi cawapres Prabowo Subianto di Pilpres 2024 tersebut mengusik seorang pegiat media sosial Prihati Puji Utami.

Melalui akun Twitter atau X @Prihati_utami, ikut mempertanyakan alasan Gibran 'mengkhianati' partai yang membesarkannya.

“Sebuah pertanyaan untuk Mas @gibran_tweet Nomor urut sudah ditentukan, pasangan calon sudah ditetapkan. Artinya, Mas Gibran benar-benar melenggang maju dalam kontestasi Pilpres 2024. Ada pertanyaan yang terus saja muncul, tapi saya belum tahu pasti jawabannya,” tulis Puji mengawali pertanyaanya sambil menyenggol akun Twitter Gibran Rakabuming Raka.

Ia mempertanyakan, kenapa Gibran tetap ngotot menjadi cawapres meski putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membuatnya bisa mendaftar sebagai cawapres di KPU dinyatakan melanggar etik.

Paman Gibran yakni Anwar Usman yang memutus perkara gugatan nomor 90 tersebut terbukti telah melanggar etik berat sehingga dicopot dari jabatannya sebagai Ketua MK.

Para pakar hukum bahkan menyebut bahwa putusan MK terkait batas usia capres cawapres, cacat hukum karena ditemukan adanya pelanggaran etik berat.

“Sedunia tahu keputusan yang diambil oleh Paman Mas Gibran itu CACAT HUKUM karena melanggar Etik berat. Seolah tak ada rasa bersalah, Mas Gibran justru terus saja melenggang. Padahal itu adalah sebuah noda dari perjalanan hidup dan karir seorang Mas Gibran yang masih sangat muda,” tulis Prihati.

Menurutnya, seandainya Gibran lebih bersabar dan melalui setiap proses pembentukan jati diri, karier Gibran mungkin akan lebih cemerlang. Bukan karena nama besar ayahnya yang menjabat sebagai presiden, namun berkat karir yang dia rintis secara mandiri.

Pertanyaan lain, yang juga ada di pikirannya adalah kenapa Jokowi justru merestui putranya menjadi cawapres Prabowo.

Nama terakhir adalah sosok yang selalu dikaitkan dengan kasus pelanggaran HAM dan juga direpresentasikan sebagai bagian dari rezim orde baru (orba).

Terlebih, Prabowo adalah lawan politiknya dalam Pilpres 2014 dan 2019.

“Yang saya masih bingung, kenapa begitu ngotot? Dan mendampingi seorang Prabowo Subianto yang dalam 2 kali kontestasi menjadi lawan bapaknya Mas Gibran. Semua tahu rekam jejaknya. Prabowo berubah? hhhmmm…. Mas, besok pun kalau kamu terpilih, kan ya hanya wapres to, karena presidennya tetap Prabowo,” tulis Prihati Puji Utami.

Ia menduga, Gibran dan Jokowi mempunyai deal tertentu, hingga rela mengkhianati partai yang telah membesarkan karirnya demi bisa memperpanjang kekuasaan. Gibran yang saat itu masih terdaftar sebagai kader PDIP, secara tiba-tiba maju sebagai cawapres setelah dideklarasikan Partai Golkar.

“Mas Gibran, seorang anak muda yang mengikuti jejak langkah bapaknya. Lahir dan besar dari partai politik bernama PDI Perjuangan, belum lepas dari PDI Perjuangan langsung ke Golkar dan dalam waktu super singkat mencalonkan diri jadi cawapres (saat itu masih kader PDI P kan?),” tulisnya.

Prihati Puji Utami yang mengikuti jejak karier politik Jokowi dan Gibran sejak awal ini menganggap keduanya tidak lagi mempunyai etika. Jokowi yang awalnya dikenal sebagai sosok merakyat dan santun, tiba-tiba menjadi sosok yang haus kekuasaan.

“Mungkin, bagi dunia perpolitikan pindah itu hal biasa. Tapi apakah seinstan ini? Sebab, bagi saya yang melihat Mas Gibran dan bapaknya dari dulu, kok jadi merasa beliau-beliau ini nggak punya etika ya… Karena apa? Saya mengikuti jejak langkah Pak Jokowi sejak dari wali kota Solo. Pak Jokowi yang dikenal merakyat dan dengan sopan santun yang baik, nyatanya anaknya melakukan hal ngawur pun tak ditegur. Atau justru malah merestui? Atau justru malah memang diminta begitu? Entahlah….,” katanya.

Jika memang kekuasaan yang diinginkan Gibran dan Jokowi, mereka bisa jauh-jauh hari mengundurkan diri sebagai kader PDIP. Sehingga semuanya tidak terkesan grusa-gurus, ngawur, dan tidak beretika.

“Kalau mau, sebenarnya bisa saja mundur dari PDIP jauh-jauh hari. Keputusan di MK soal syarat capres cawapres diumumkan jauh-jauh hari, mundurlah dari wali kota jauh-jauh hari, jadi nggak terkesan mendadak grusa grusu dan ngawur serta ngebet banget banget banget hingga tidak beretika,” ungkapnya.

Prihati Puji Utami juga mempertanyakan, kira-kira apa yang akan diceritakan kepada anak cucu mereka dengan segala skenario yang dibuat demi melanggengkan kekuasaan. Dia juga menanyakan, apakah keduanya sudah yakin akan menang, atau malah akan melakukan segala cara agar menang.

“Mas, apa yang akan kamu ceritakan ke generasi berikutnya? Apa? Ini adalah sebuah kontestasi pilpres yang seharusnya menjadi bahan pembelajaran bagi anak negeri, bagaimana menjaga Indonesia ini dengan baik dan bermartabat. Pembelajaran bagi anak negeri yang harus bisa membersamai setiap proses menuju kematangan untuk memimpin. Mas, masih nggak masuk nalar saya kalau kamu ini begitu ngotot dan ngebet. Apa sih alasan dibalik itu?,” imbuhnya.

Utas berjudul Pertanyaan terhadap Gibran itu telah dilihat lebih dari 275 ribu, disukai lebih dari 2.800 kali, direply lebih dari 1.900 kali, dan direpost sebanyak 1.500 kali, hanya dalam waktu kurang dari sehari.

Ada beragam komentar dari warganet, menanggapi utas berisi pertanyaan terhadap Gibran tersebut.

Misalnya akun @Rahmah0845, yang berkomentar dengan kalimat sindirian,  bahwa sejarah akan mencatat seorang cawapres yang diusung melalui Mahkamah Konstitusi.

"Sejarah akan mencatat, pernah ada Cawapres yg di usung melalui Mahkamah Keluarga, yg  Cacat Moral, Cacat Etika. Sejarah itu akan dibaca oleh Anak Cucu Anda @gibran_tweet, tidak malukah Anda pada Anak Cucu Anda ?," tulis @Rahmah0845

Sementara, akun @Dinda_Tarista sangat menyayangkan melihat Presiden Jokowi justru merestui langkah Gibran maju sebagai cawapres dengan cara menabrak konstitusi.

"Keluarga yang seharusnya menjadi teladan, malah memilih menyandarkan nasibnya pada ketamakan kekuasaan, meninggalkan jejak buruk bagi generasi yang akan datang<" tulisnya.

Sementara akun @ReinadGreynad76 juga memiliki pertanyaan yang sama.

"Itu jg pertanyaan sy...hal mendesak ap yg mengharuskan bocil ini hrs cawapres sampe hrs mengubh konstitusi demi si bocil, seakan akan klo tdk skrg bsk kiamat, knapa tdk sabar mengikuti proses, spy tdk ad beban moral ketika maju...." kata Reynad. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X