Jumat, 12 Juni 2026

Kapten Persijatim Solo FC Berkunjung ke Museum Titik Nol Pasoepati, Begini Kisahnya

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Jumat, 31 Juli 2020 | 15:30 WIB
NUSUKAN (KLIKSOLONEWS.COM) – Masih ingat sosok yang memiliki peran penting di lini tengah Persijatim Solo FC? Ya, eks gelandang Timnas Baretti, Haryanto “Tommy” Prasetyo tak bisa terlepas dari haru-biru Kota Solo.

Adik kandung bintang Timnas Primavera, Indriyanto “Nunung” Nugroho tersebut selalu mengingat bagaimana peran Pasoepati bisa memunculkan semangat berlipat pada pemain.

Berkunjung ke Museum Titik Nol Pasoepati di Kampung Nayu, Nusukan, Solo, Tommy bertutur kisah heroik saat membela Persijatim Solo FC pada Liga Indonesia (Ligina) beberapa tahun silam, Jumat (31/7/2020).

Dia diterima sesepuh sekaligus salah satu pendiri Pasoepati, Mayor Haristanto dan penggagas Museum Titik Nol Pasoepati.

Bagi Tommy, Solo adalah kota spesial bagi dirinya. Pria asal Sukoharjo itu tumbuh dari Diklat Arseto Solo sebelum hijrah ke Diklat Salatiga dan namanya terus melambung ke pentas sepak bola Tanah Air.

Pria kelahiran 3 April 1978 itu mengenang masa-masa saat memperkuat klub asal Kota Bengawan, baik Persis Solo maupun Persijatim Solo FC. Namun, Tommy memiliki kenangan yang tak bisa dilupakan kala menjalani Liga Indonesia 2003 bersama Persijatim Solo FC.

"Kondisi saya saat itu sedang drop karena baru sembuh dari sakit DBD. Namun Pak Zein (pemilik Persijatim, Muhammad Zein) memberi kepercayaan untuk memperkuat tim ini," ungkap Tommy mengawali perbincangan dengan KLIKSOLONEWS.

"Padahal saat itu tubuh saya gemuk dan drop. Namun beliau tetap memberikan kesempatan kepada saya," tambah dia.

Kesempatan emas itu tak disia-siakan pria yang sudah memegang lisensi kepelatihan B AFC tersebut. Kembali menggunakan nomor punggung 5, Tommy langsung membawa Solo FC menang 2-1 atas Persija Jakarta dalam laga pembuka di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Sempat tertinggal lewat sontekan Bambang Pamungkas, pasukan Yusack Sutanto membalikkan skor lewat Tommy dan bunuh diri Warsidi Adi. Performa apik itu turut membawanya kembali mendapat panggilan Timnas Indonesia setelah empat tahun absen.

"Putaran pertama memang bagus di papan atas, namun menurun di putaran kedua. Dukungan Pasoepati saat itu luar biasa. Setelah itu saya cedera dan pindah ke Persijap Jepara," paparnya.



Sepanjang karier, sosok yang fasih beroperasi di sektor gelandang mampu menembus Timnas U-16 hingga akhirnya diboyong ke Diklat Ragunan.

Pemilik tinggi 173 cm itu lantas bergabung ke Timnas Baretti tahun 1995 hingga direkrut klub kaya raya, Pelita Jaya.

Selepas dari Solo FC dan ke Persijap, Tommy masih sempat memperkuat sejumlah klub. Mulai PSS Sleman, Persiku Kudus, Persis Solo dan terakhir tim Manado United pada 2011.

Dia pun mengapresiasi upaya Mayor Haristanto dengan Museum Titik Nol Pasoepati. “Sangat bagus sekali. Di sini (museum) banyak terdapat memorabilia pemain-pemain hebat. Harapan saya tidak hanya eks Persis Solo, tetapi bisa bintang timnas Indonesia maupun pemain dari tim-tim lain,” ucap Tommy.

-
Mayor Haristanto dan Tommy di Museum Titik Nol Pasoepati, Jumat (31/7/2020). (Kliksolonews/Adhirajasa)

Mayor Haristanto masih mengkliping berita Tommy saat menjadi cover utama Tabloid Bola dengan judul “Janji Tommy”. Menurutnya, benda-benda dari pemain hebat di Indonesia memiliki nilai sejarah tinggi.

“Di sini Mas Tommy bercerita, bertutur, dan mengenang perjalanan berkarier jadi pesepak bola. Museum ini terbuka untuk umum, siapa pun bisa menyumbang, tidak hanya para eks pemain. Para jurnalis olahraga pun bisa menyumbang benda-benda pribadinya untuk dipajang,” tutur Mayor. (KS01-01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X