Senin, 22 Juni 2026

Omzet Turun dan Pelanggan Pindah, Pedagang Ayam Bakar Ini Mengaku Tergiur Pesugihan Kandang Bubrah

Photo Author
Lukas Budi, KlikSoloNews.com
- Senin, 22 Juni 2026 | 00:30 WIB
Omzet Turun dan Pelanggan Pindah, Pedagang Ayam Bakar Ini Mengaku Tergiur Pesugihan Kandang Bubrah. (KlikSoloNews/tangkapan layar YouTube Jejak Backpacker)
Omzet Turun dan Pelanggan Pindah, Pedagang Ayam Bakar Ini Mengaku Tergiur Pesugihan Kandang Bubrah. (KlikSoloNews/tangkapan layar YouTube Jejak Backpacker)

KLIKSOLONEWS.COM – Ayu mengaku mengikuti ritual Pesugihan Kandang Bubrah setelah usaha ayam bakarnya sepi dan pelanggan beralih ke pesaing. Simak kisah lengkapnya.

Kisah tentang pesugihan masih menjadi perbincangan di tengah masyarakat Jawa.

Salah satu yang cukup dikenal adalah Pesugihan Kandang Bubrah, sebuah praktik mistis yang diyakini sebagian orang dapat mendatangkan kelancaran rezeki dan usaha tanpa harus memberikan tumbal.

Cerita mengenai pesugihan tersebut diungkap oleh seorang perempuan bernama Ayu dalam podcast Jejak BackPacker berjudul The Real Pesugihan Tanpa Tumbal!! Pulang Ritual Omzet Melejit!! yang tayang pada Minggu (21/6/2026).

Baca Juga: Modus Ritual Pembersihan Diri, Oknum Pelatih Silat di Serang Diduga Cabuli 5 Murid

Ayu mengaku awalnya tidak pernah terpikir untuk terlibat dalam ritual pesugihan. Bersama suaminya yang telah pensiun dari pekerjaannya, ia membangun usaha ayam bakar secara sederhana pada tahun 2010.

Usaha tersebut dimulai dari skala kecil dengan menjual sekitar lima kilogram ayam per hari. Seiring berjalannya waktu, jumlah penjualan terus meningkat.

"Awalnya kami membuka dari 5 kilogram ayam. Alhamdulillah laku, bulan berikutnya menambah menjadi 7 kilogram ayam dan seterusnya 10 kilogram ayam," ujar Ayu.

Menurutnya, usaha tersebut berkembang cukup baik hingga memasuki tahun ketiga. Namun kondisi mulai berubah ketika muncul pedagang lain yang menjual produk serupa di kawasan yang sama.

Ayu mengaku heran karena usaha pesaingnya berkembang sangat cepat, bahkan mampu menarik sejumlah pelanggan tetap miliknya.

"Beberapa pelanggan kami mulai pindah, salah satunya langganan Jumat Berkah yang sudah dua tahun berlangganan dengan kami," tuturnya.

Baca Juga: Misteri Ritual Sembogo di Film Perempuan Pembawa Sial: Antara Asap Mistis dan Kutukan Bahu Laweyan

Penurunan omzet membuat kondisi keuangan keluarganya semakin tertekan. Di tengah cicilan yang harus dibayar setiap bulan, tabungan yang dimiliki perlahan habis untuk menutupi kebutuhan usaha dan rumah tangga.

"Saat itu saya bicara ke suami, kok aneh ya, usahanya cepat ramai, sedangkan kita usaha ramai setelah tiga tahun. Usaha kami akhirnya sepi dan tidak laku. Sementara kami tetap bayar cicilan dan tabungan habis untuk membayar cicilan," katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Lukas Budi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X