Jumat, 12 Juni 2026

Karanganyar Hadapi Krisis Sampah, DLH Sebut Horeka Sumbang 30 Ton Sampah per Hari

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Jumat, 1 Agustus 2025 | 13:30 WIB
Ilustrasi. Karanganyar Hadapi Krisis Sampah, DLH Sebut Horeka Sumbang 30 Ton Sampah per Hari. (KlikSoloNews/dok ilustrasi)
Ilustrasi. Karanganyar Hadapi Krisis Sampah, DLH Sebut Horeka Sumbang 30 Ton Sampah per Hari. (KlikSoloNews/dok ilustrasi)

KARANGANYAR, KLIKSOLONEWS.COM — Kabupaten Karanganyar tengah berada dalam situasi darurat sampah. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari nyaris kolaps akibat kelebihan kapasitas.

Setiap harinya, lebih dari 140 ton sampah masuk ke lokasi tersebut, mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar untuk melakukan terobosan baru.

Sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) menjadi sasaran utama program pengelolaan sampah berbasis sumber. Kepala DLH Karanganyar, Sunarno, menyatakan bahwa solusi jangka panjang tidak bisa terus bergantung pada angkut-buang ke TPA.

“Kalau terus bergantung pada TPA, anggaran daerah bisa habis hanya untuk urusan angkut sampah. Makanya, solusinya adalah mengelola dari hulunya,” tegas Sunarno dalam forum sosialisasi bersama pelaku usaha di Hotel Grand Bintang Tawangmangu, Kamis 31 Juli 2025, dilansir HarianKota, jejaring KlikSoloNews.

Menurut data DLH, sektor horeka berkontribusi antara 20 hingga 30 ton sampah per hari, sebagian besar berupa limbah organik.

Dengan tingginya potensi tersebut, pemerintah mulai menggencarkan program “Sampah Tuntas di Sumber” dengan mengedukasi para pelaku usaha untuk memilah dan mengolah sampahnya sendiri.

Sunarno mengingatkan kontribusi ekonomi sektor horeka memang besar, namun dampak ekologinya juga tidak bisa diabaikan.

Beberapa hotel di Karanganyar telah lebih dulu memulai langkah pengelolaan sampah mandiri. Hotel Al-Azhar dan ESK5, misalnya, berhasil memangkas jumlah truk pengangkut sampah dari 18 truk per bulan menjadi hanya 3–4 truk.

Kunci keberhasilannya adalah kerja sama dengan peternak lokal serta pemanfaatan limbah organik sebagai pakan ternak.

Sementara itu, sampah anorganik bernilai ekonomi disortir oleh staf hotel dan dijadikan bagian dari sistem insentif internal.

“Biaya operasional bisa ditekan hampir nol. Artinya, ini bukan hanya soal tanggung jawab sosial, tapi juga efisiensi bisnis,” tambah Sunarno.

DLH menekankan pengelolaan mandiri tidak selalu memerlukan investasi besar. Komposter sederhana dan kerja sama dengan warga sekitar bisa menjadi solusi efektif dan murah. Langkah ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pelaku usaha untuk ikut bergerak.

Tak hanya menyasar sektor swasta, DLH juga menggandeng pemerintah desa untuk mengalokasikan dana APBDes dalam pengelolaan sampah lokal. Desa-desa di wilayah barat Karanganyar seperti Colomadu menjadi target sosialisasi berikutnya.

Program lintas sektor ini mendapat dukungan penuh dari Bupati Karanganyar dan menargetkan pengurangan beban sampah TPA sebesar 40 persen dalam beberapa bulan ke depan.

“Kalau seluruh elemen bergerak bersama, kita bukan hanya menyelamatkan TPA, tapi juga menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan untuk generasi mendatang,” tutup Sunarno.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X