BOYOLALI, KLIKSOLONEWS.COM - Ratusan warga berkumpul di Makam Puroloyo, Desa Sukabumi, Kabupaten Boyolali, Sabtu, 15 Januari 2025, untuk melaksanakan tradisi Sadranan.
Tradisi yang telah berlangsung sejak tahun 1.500-an ini bukan sekadar ritual membersihkan makam dan mendoakan para leluhur, tetapi juga menjadi momen penting bagi warga, terutama mereka yang merantau, untuk kembali berkumpul dan mempererat tali persaudaraan.
Sejak pagi, warga dari Desa Sukabumi, serta sebagian dari Desa Mliwis dan Desa Cepogo, telah berdatangan dengan membawa tenongan makanan beraneka warna.
Mereka bersiap mengikuti serangkaian prosesi, mulai dari membersihkan makam Syekh Ibrahim atau Kyai Bonggol Jati—seorang ulama penyebar Islam dari Kerajaan Demak Bintoro—hingga pembacaan Al-Quran dan doa bersama yang dipimpin oleh ulama desa.
Muhammad Muchlis, sesepuh Desa Sukabumi, menjelaskan bahwa Sadranan awalnya dilakukan secara sederhana, tetapi seiring waktu, tradisi ini berkembang dengan adanya tenongan makanan sebagai simbol rasa syukur. Makanan yang dibawa warga kemudian dibagikan kepada siapa saja yang hadir dalam acara tersebut.
"Ini bukan hanya tradisi ziarah, tetapi juga amaliyah warga. Setelah mendoakan para leluhur, kita berbagi rezeki dalam bentuk makanan dan menikmatinya bersama. Semua bersuka cita menyambut kembul bujono pada tradisi Sadranan menjelang Ramadan," ujarnya.
Tak hanya warga lokal, banyak perantau asal Sukabumi yang telah sukses di kota-kota besar juga menyempatkan diri untuk kembali ke kampung halaman demi mengikuti Sadranan.
Bagi mereka, tradisi ini bukan hanya soal melestarikan budaya, tetapi juga menjadi pengingat akan akar dan sejarah keluarga mereka.
Puluhan tenongan berisi aneka makanan khas seperti sagon, wajik, jadah, klepon, jenang, serta makanan ringan lainnya ditata berjajar di area makam hingga ke jalan desa. Momen berbagi ini menambah kehangatan suasana, mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan yang masih kental di masyarakat Jawa.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, Sadranan tetap bertahan sebagai warisan budaya yang menghubungkan generasi ke generasi. Tradisi ini bukan hanya perwujudan rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi yang memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat. (KS06)