SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Kampung Jawani di Kelurahan Banjarsari, Kota Surakarta, terus berkembang sebagai kampung tematik berbasis pelestarian budaya Jawa.
Memasuki usia tiga tahun, kawasan ini diproyeksikan menjadi salah satu magnet wisata budaya baru yang menawarkan pengalaman khas kehidupan masyarakat Jawa di Kota Solo.
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menyampaikan harapan tersebut saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-3 Kampung Jawani di Banjarsari, Jumat (12/6).
Baca Juga: Festival Bulan Haji 2026: Astrid Widayani Dorong Masjid Jadi Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan
Menurutnya, Kampung Jawani merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga sekaligus mengembangkan budaya lokal melalui berbagai kegiatan yang hidup di tengah warga.
“Kampung Jawani ini sebenarnya merupakan representasi bagaimana budaya di Kota Solo, khususnya budaya Jawa, diangkat dalam bentuk partisipasi aktif warganya,” ujarnya.
Di Kampung Jawani, warga secara swadaya mengembangkan berbagai aktivitas budaya seperti latihan gamelan, pertunjukan wayang kulit, seni tari, hingga pengelolaan museum budaya.
Selain itu, sektor ekonomi lokal juga turut tumbuh melalui UMKM dan fasilitas homestay yang mendukung konsep wisata berbasis masyarakat.
Kampung ini menjadi salah satu contoh kampung tematik di Solo yang tidak hanya menonjolkan satu produk tertentu, tetapi menghadirkan ekosistem budaya yang lebih luas dan menyeluruh.
Baca Juga: Program GEMAS Masuk SMP Warga, Astrid Tekankan Pentingnya Sejarah bagi Generasi Muda
“Di Solo tidak hanya ada Kampung Batik atau Kampung Blangkon. Kampung Jawani hadir sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya melalui aktivitas masyarakat yang hidup dan berkembang di dalam kampung,” jelasnya.
Tawarkan Pengalaman Lengkap: Jamu hingga Wayang
Pemerintah Kota Surakarta mendorong pengelola Kampung Jawani untuk menyusun alur kunjungan wisata yang lebih terstruktur agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang lengkap.
Konsep wisata yang diusulkan dimulai dari penyambutan tamu dengan minum jamu tradisional, dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit, latihan tari dan gamelan, kunjungan ke museum budaya, hingga berbelanja produk UMKM lokal sebagai oleh-oleh.