nasional

Teater Lingkar dan Sujiwo Tejo Guncang Demak Lewat Rojo Tikus, Pertunjukan Satir Sarat Kritik Sosial

KS1
Rabu, 13 Mei 2026 | 20:43 WIB

-


DEMAK, KLIKSOLONEWS.COM – Pertunjukan seni bertajuk “Rojo Tikus” sukses mengguncang Halaman Stadion Sultan Fatah Demak pada Sabtu malam (9/5/2026).

Melalui konsep pakeliran multidimensi, Teater Lingkar bersama budayawan nasional Sujiwo Tejo menghadirkan sajian seni penuh satire yang menyoroti kerakusan dan korupsi para penguasa.

Ratusan masyarakat tampak memadati arena pertunjukan sejak sore hari. Mereka disuguhkan perpaduan teater, pedalangan, tari, musik, hingga tata visual artistik megah yang menghadirkan suasana dramatik sekaligus reflektif.

Nuansa pertunjukan semakin kuat melalui tata cahaya bernuansa gelap, komposisi musik yang memadukan gamelan pentatonis dengan instrumen diatonis Barat, serta dialog-dialog tajam penuh humor satir yang mengundang tawa sekaligus perenungan.

Lakon “Rojo Tikus” mengisahkan sosok penguasa Negeri Sahara bernama Wirog Bawono, seorang “raja tikus” berdasi yang hidup di tengah pusaran korupsi bersama kelompok bernama “Partai Tikus”.

Negeri tersebut digambarkan memiliki jargon “berbuncit, berdecit, berduit”, simbol dari budaya rakus dan penyalahgunaan kekuasaan yang membuat rakyat menderita.

Di tengah kehidupan mewah dan kekuasaannya, Wirog mulai muncul keinginan untuk bertobat. Namun langkah itu justru mendapat penolakan dari orang-orang terdekatnya, termasuk sang istri Queen Milly Cherry dan leluhur tikus bernama Kakek Jinada yang terus menghasut agar budaya kerakusan tetap dipertahankan.

Kritik sosial yang dibalut dialog filosofis menjadi kekuatan utama pertunjukan malam itu. Penampilan Sujiwo Tejo dengan gaya tutur khasnya mampu membangun kedekatan emosional dengan penonton melalui satire yang tajam namun tetap menghibur.

“Saya sangat mengapresiasi antusias para penonton malam ini. Ini menunjukkan ruang budaya dan seni pertunjukan masih dicintai masyarakat,” ujar Sujiwo Tejo.

Sutradalang Teater Lingkar, Sindhunata Gesit Widiharto, menjelaskan bahwa konsep Pakeliran Multidimensi merupakan bentuk kolaborasi antara seni pedalangan, teater, tari, film, dan musik sebagai upaya menghadirkan pembaruan dalam seni tradisi.

Dalam pertunjukan tersebut, Sindhunata tidak hanya bertindak sebagai sutradara, tetapi juga tampil langsung sebagai dalang yang aktif berdialog dengan para aktor di atas panggung.

Jejak Mas Ton

Menurutnya, pementasan “Rojo Tikus” menjadi bagian dari upaya meneruskan jejak almarhum MasTon Lingkar dengan semangat “Teteg, Tekun, Teken, Tekan” dalam menjaga dan merawat kebudayaan.

“Kami ingin membuktikan Teater Lingkar tetap hidup dan urup dengan karya-karya yang fresh dan penuh kebaruan. Konsep ini kami harapkan menjadi ruang positif bagi anak muda untuk mencintai seni tradisi tanpa kehilangan sentuhan modern,” katanya.

Seni Tradisi Tetap Memiliki Daya Tarik Kuat


Sepanjang pertunjukan berlangsung, suasana penonton silih berganti antara tepuk tangan meriah, gelak tawa, hingga momen hening penuh makna.

“Rojo Tikus” menjadi bukti bahwa seni tradisi masih memiliki daya hidup kuat sebagai media hiburan sekaligus sarana kritik sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Melalui pertunjukan tersebut, Teater Lingkar berhasil menghadirkan karya seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan refleksi sosial kepada masyarakat luas.(ks01)

Tags

Terkini