nasional

BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang, Masyarakat Diminta Waspada

KS1
Selasa, 14 April 2026 | 09:31 WIB
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang, Masyarakat Diminta Waspada. (KlikSoloNews/dok AI)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COMBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata dalam tiga dekade terakhir.


Meski demikian, BMKG menegaskan kondisi ini tidak seekstrem isu yang beredar di masyarakat.


Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal. Pergerakannya diperkirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian meluas ke Bali dan Jawa, hingga akhirnya menjangkau Sumatera.


“Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus dan mulai berakhir sekitar September hingga awal Oktober,” ujarnya.


Kondisi cuaca yang lebih kering ini dipicu berkurangnya pembentukan awan serta meningkatnya suhu udara, sehingga berpotensi menimbulkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan di sejumlah wilayah.


Berdasarkan data BMKG, sekitar 64,5 persen zona musim di Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal. Bahkan, lebih dari separuh wilayah juga diprediksi menghadapi durasi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.


Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, menjelaskan meskipun lebih kering, kondisi kemarau 2026 tidak bisa dikategorikan sebagai yang paling ekstrem dalam 30 tahun terakhir.


Ia meluruskan berbagai istilah yang sempat viral di masyarakat, seperti “Kemarau Godzilla” atau “El Nino Godzilla”, yang dinilai tidak sesuai dengan data ilmiah.


“Jika dibandingkan, kemarau pada 1997 dan 2015 masih jauh lebih ekstrem. Namun memang, kondisi tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan tahun 2023,” jelasnya.


Fenomena El Nino turut berkontribusi terhadap kondisi tersebut. BMKG mencatat El Nino mulai aktif sejak akhir April hingga awal Mei 2026 dan berpotensi mengurangi curah hujan di Indonesia.


Saat ini, intensitas El Nino masih berada pada kategori lemah, namun diperkirakan meningkat menjadi moderat pada periode Agustus hingga Oktober, yang bertepatan dengan puncak musim kemarau.


Fachri menegaskan bahwa El Nino dan musim kemarau merupakan dua hal berbeda. Indonesia tetap mengalami musim kemarau setiap tahun sebagai bagian dari pola iklim tropis, terlepas dari ada atau tidaknya fenomena tersebut.


BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa perlu panik. Langkah mitigasi seperti pengelolaan air, pencegahan kebakaran lahan, serta kesiapan sektor pertanian menjadi hal penting yang harus diperhatikan.


Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat juga dinilai menjadi kunci dalam mengurangi dampak kemarau, terutama dalam menjaga ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan nasional.

Halaman:

Tags

Terkini