KLATEN, KLIKSOLONEWS.COM – Lonjakan kasus suspek campak di sejumlah wilayah Jawa Tengah sejak awal 2026 mendorong pemerintah daerah mengambil langkah cepat. Imunisasi massal dan deteksi dini kini digencarkan hingga tingkat desa guna mencegah potensi kejadian luar biasa (KLB).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah per 7 April 2026, tercatat sebanyak 2.188 kasus suspek campak. Kabupaten Kudus menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 501 kasus, disusul Brebes 202 kasus, Cilacap 119 kasus, Pati 72 kasus, dan Klaten sebanyak 54 kasus.
Puncak peningkatan terjadi pada Januari 2026 dengan temuan mencapai 834 kasus. Dari total tersebut, 144 kasus telah terkonfirmasi positif campak dan 18 kasus lainnya positif rubella.
Pemerintah Percepat Imunisasi dan Deteksi Dini
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa penanganan kasus campak menjadi prioritas bersama antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Hal tersebut disampaikannya saat meninjau pelaksanaan imunisasi di Puskesmas Klaten Tengah. Ia menyebut wilayah dengan angka kasus tinggi seperti Cilacap, Kudus, dan Klaten menjadi fokus utama intervensi.
“Kita lakukan deteksi dini di daerah dengan temuan tinggi. Ini menjadi perhatian serius,” ujarnya.
Menurutnya, lonjakan kasus dipengaruhi belum optimalnya cakupan imunisasi dasar pada anak. Kondisi ini menyebabkan tingkat kekebalan tubuh terhadap campak masih rendah.
Karena itu, pemerintah menargetkan cakupan imunisasi meningkat hingga mendekati 90 persen guna menekan penyebaran penyakit.
Waspadai Gejala dan Terapkan Pola Hidup Sehat
Selain imunisasi, masyarakat juga diminta lebih waspada terhadap gejala awal campak, seperti demam dan munculnya ruam merah pada kulit.
Jika mengalami gejala tersebut, warga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Upaya pencegahan juga harus dibarengi dengan pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi.
Untuk mempercepat cakupan imunisasi, Pemprov Jawa Tengah mengintegrasikan program ini dengan layanan dokter spesialis keliling serta Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau hingga desa-desa.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Jateng, Heri Purnomo, menjelaskan bahwa mayoritas kasus terjadi pada anak-anak, meski orang dewasa dengan imunitas rendah juga berisiko terinfeksi.
Ia menegaskan bahwa imunisasi tetap menjadi langkah pencegahan utama. Selain itu, masyarakat yang sakit disarankan menggunakan masker, melakukan isolasi mandiri, dan menjaga jarak.
Dukungan masyarakat terhadap program imunisasi juga terus menguat. Salah satu warga Klaten mengaku terbantu dengan adanya program imunisasi gratis bagi anak.
Program ini dinilai penting untuk melindungi anak dari risiko campak di tengah meningkatnya kasus.
Dengan langkah terpadu antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan penyebaran campak di Jawa Tengah dapat segera dikendalikan dan tidak berkembang menjadi KLB. (ks01)