SOLO, KLIKSOLONEWS.COM — Suara khas mesin tiga roda terdengar pelan di antara deru kendaraan pagi di Jalan Slamet Riyadi. Sebuah Bajaj Maxride berwarna merah mengilap berhenti di tepi jalan, siap menjemput penumpang pertamanya hari itu.
Meski sekilas mengingatkan pada bajaj legendaris yang dulu sempat meramaikan jalanan ibu kota, kendaraan ini tampil jauh lebih modern.
Catnya bersih, bodinya kokoh, dan interiornya terasa seperti mobil mini. Begitu duduk di kursi penumpang, aroma khas kendaraan baru menyeruak, kursi masih terbungkus plastik bening, sementara bagian kemudi terbuka tanpa pintu di sisi kanan dan kiri.
Dengan tarif Rp7.000 untuk rute Gendengan–Plaza Sriwedari, perjalanan singkat ini seolah menjadi penelusuran kecil menuju wajah baru transportasi alternatif di Kota Solo.
Pengemudi Bajaj Maxride, seorang pria paruh baya, mengaku baru seminggu bergabung. Sebelumnya ia bekerja sebagai pengemudi ojek online, namun kini memilih mencoba peruntungan di Bajaj Maxride.
“Kalau di ojol, potongannya bisa sampai 20 persen. Di Maxride cuma 10 persen, langsung otomatis lewat aplikasi,” ujarnya sambil memutar setir di perempatan Sriwedari.
Sistem Sewa dan Jumlah Armada Terbatas
Ia memulai aktivitasnya sekitar pukul 10 pagi, menghindari lalu lintas padat. “Karena saya masih penyesuaian. Biasanya bawa motor, manuvernya lebih ringan. Kalau Bajaj ini kan agak besar, jadi masih belajar ngatur ritmenya,” katanya sambil tersenyum.
Sejauh hari itu, ia baru mendapat tiga penumpang. “Dari pagi sampai siang baru tiga, termasuk njenengan. Tadi sempat antar dari Manahan,” tuturnya santai.
Dari obrolan ringan di dalam kabin, terungkap bahwa sistem kerja pengemudi Maxride menggunakan model sewa harian. Setiap pengemudi membayar sejumlah uang kepada pihak pengelola dan diperbolehkan membawa pulang unit selama pembayaran lancar.
“Sewa dibayar langsung ke kantor di Banyuanyar. Katanya dari seratus unit yang ada, baru 25 yang jalan. Sisanya masih nunggu tahap berikutnya,” jelasnya.
Bagi sebagian orang, sistem seperti ini dianggap lebih fleksibel karena pengemudi bisa menentukan jam kerja sendiri. Namun, di sisi lain, mereka tetap harus memastikan pendapatan harian cukup untuk menutupi biaya sewa dan kebutuhan pribadi.
Izin Operasional Masih Jadi Tanda Tanya
Meski sudah mulai beroperasi di beberapa titik kota, status perizinan Bajaj Maxride di tingkat kota belum sepenuhnya jelas. Beberapa pengemudi pun mengaku tak tahu-menahu soal hal tersebut.
-
“Kalau izin, saya kurang paham. Katanya sih sudah diurus sama kantor. Yang penting bagi kami, kendaraan bisa jalan dan jadi sumber penghasilan,” kata sang pengemudi menutup pembicaraan.
Diberitakan sebelumnya, kehadiran kendaraan roda tiga bernama bajaj Maxride tengah menyita perhatian warga Kota Solo. Penampakan bajaj berwarna mencolok itu menjadi perbincangan di media sosial setelah terlihat beroperasi di sejumlah ruas jalan kota.
Namun, di balik viralnya kendaraan tersebut, otoritas setempat menegaskan bajaj Maxride belum mengantongi izin resmi untuk beroperasi.
Kasat Lantas Polresta Surakarta, Kompol Agung Yudiawan menjelaskan pihaknya sudah menindaklanjuti fenomena tersebut dengan berkoordinasi bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo.
Menurutnya, langkah ini dilakukan untuk memverifikasi kelengkapan administrasi, legalitas trayek, dan kesiapan teknis baik dari sisi kendaraan maupun pengemudi.
Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Solo, Muhammad Taufiq juga menyampaikan hal senada. Ia menuturkan sampai saat ini Dishub belum menerima koordinasi maupun pemberitahuan resmi dari pihak aplikator Maxride. Bahkan, pihaknya masih mencari tahu keberadaan kantor pengelola transportasi tersebut.
“Kami sudah menelusuri informasi terkait Maxride, tapi belum ada koordinasi sama sekali. Kami juga belum tahu siapa aplikatornya, di mana kantornya, dan bagaimana legalitas operasionalnya. Padahal kalau mau beroperasi, wajib ada izin dari pemerintah daerah,” jelas Taufiq
Di tengah keramaian transportasi daring dan ojek motor, kehadiran Bajaj Maxride menghadirkan warna baru. Bagi sebagian warga, kendaraan ini bukan sekadar nostalgia, tapi juga simbol perubahan: lebih modern, efisien, dan tetap terjangkau.
Meski masih menanti kepastian regulasi, Maxride sudah mulai mencuri perhatian. Suara mesinnya yang khas kini kembali mengisi jalan-jalan Solo, membawa cerita baru tentang peluang ekonomi dan adaptasi masyarakat kota terhadap inovasi transportasi. (KS01)