SURABAYA, KLIKSOLONEWS.COM – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap meningkatnya kejahatan digital yang memanfaatkan kecanggihan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Hal itu disampaikannya dalam acara Syawal Fest yang digelar PW GP Ansor Jawa Timur di Jatim International Expo, Surabaya.
Nezar menyoroti maraknya penggunaan AI untuk membuat foto dan video palsu (deepfake) yang sangat meyakinkan, bahkan mampu mengecoh para ahli. “Sekarang video yang dihasilkan AI nyaris sempurna. Banyak yang terkecoh, bukan hanya masyarakat awam, tetapi juga para ekspert,” ujarnya.
Salah satu bentuk penyalahgunaan AI yang mulai marak adalah pemalsuan bukti transfer bank. Dengan teknologi AI, pelaku kejahatan dapat membuat tampilan bukti transfer yang sangat menyerupai aslinya, bahkan mencakup detail seperti hologram.
“Bukti transfer itu bisa dengan cepat dibuat, bahkan hologram di belakangnya pun bisa ditiru. Ini sangat berbahaya,” tegas Nezar.
Pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), telah mengambil sejumlah langkah untuk mencegah penyalahgunaan AI, salah satunya dengan menerbitkan Surat Edaran Menteri Kominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.
Selain itu, Komdigi juga telah bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia dalam upaya mitigasi kejahatan keuangan berbasis teknologi AI.
Nezar menyebutkan bahwa pencegahan kejahatan digital juga diperkuat melalui berbagai regulasi yang telah ada, seperti Undang-Undang ITE, Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (PDP), Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dan Undang-Undang Hak Cipta.
Perlu Regulasi Khusus dan Peta Jalan AI
Meski sudah ada sejumlah aturan, Nezar mengakui bahwa perkembangan teknologi AI jauh lebih cepat dibanding regulasi yang tersedia. Oleh karena itu, pemerintah tengah menyusun peta jalan pengembangan AI nasional.
“Targetnya agar pemanfaatan AI di Indonesia dapat diarahkan untuk hal-hal positif, sekaligus mampu mengantisipasi risiko negatif yang mungkin terjadi,” jelasnya.
Nezar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih kritis dan berhati-hati terhadap konten yang dikonsumsi, serta tidak mudah percaya dengan informasi visual yang tersebar, mengingat potensi manipulasi yang semakin tinggi melalui AI.(KS01)