SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan akselerasi signifikan dalam penanganan backlog perumahan. Hingga triwulan I 2026, sebanyak 281.312 unit rumah bagi warga miskin berhasil dibangun melalui berbagai skema kolaboratif lintas sektor.
Capaian tersebut merupakan akumulasi pembangunan sepanjang 2025 hingga awal 2026. Pada 2025 saja, realisasi pembangunan mencapai 274.514 unit yang bersumber dari berbagai pendanaan, mulai dari APBN, APBD provinsi, APBD kabupaten/kota, hingga dukungan CSR dan Baznas.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Jateng, Boedyo Dharmawan, menyebut capaian ini berperan penting dalam menekan angka backlog perumahan.
“Pada akhir 2025 backlog perumahan sekitar 1,33 juta unit. Berkat upaya bersama, berhasil ditekan hingga awal 2026 menjadi sekitar 1,05 juta unit,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Pemerintah menargetkan penurunan backlog dapat dituntaskan dalam empat tahun ke depan melalui sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta dukungan berbagai pemangku kepentingan.
Program ini mencakup dua pendekatan utama, yakni pembangunan rumah baru bagi masyarakat yang belum memiliki hunian, serta perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) agar memenuhi standar keamanan dan kesehatan.
“Program ini tidak hanya membangun rumah baru, tetapi juga memperbaiki rumah agar layak huni,” jelas Boedyo.
Dukungan untuk Target Nasional
Program pembangunan rumah ini juga menjadi bagian dari kontribusi Jawa Tengah dalam mendukung target nasional pembangunan 3 juta rumah.
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa program RTLH merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami akan terus memperkuat kolaborasi agar semakin banyak warga terbantu dan backlog perumahan bisa ditekan secara bertahap,” ungkapnya.
Menurutnya, penyediaan hunian layak bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga bagian dari upaya menghadirkan keadilan sosial.
“Kami ingin setiap keluarga memiliki tempat tinggal yang layak sebagai fondasi kehidupan yang lebih sejahtera,” tegasnya.
Manfaat program ini dirasakan langsung masyarakat. Salah satunya Subali, warga Desa Sirnoboyo, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, yang kini memiliki rumah layak setelah sebelumnya menumpang.
“Saya senang sekali bisa punya rumah sendiri. Dulu tidak pernah kepikiran,” ujarnya.
Sebagai penjual bakso bakar keliling, penghasilannya yang tidak menentu membuatnya sulit memiliki rumah. Kini, ia bersama keluarga dapat menikmati hunian yang lebih nyaman.
Hal serupa dirasakan Sumar, warga setempat yang mendapat bantuan renovasi RTLH. Rumahnya yang sebelumnya berdinding kayu kini telah diperbaiki menjadi lebih kokoh.
“Sekarang rumah lebih kuat dan nyaman. Saya merasa diperhatikan oleh pemerintah,” ungkapnya.
Bagi ratusan ribu warga penerima manfaat, program ini bukan sekadar pembangunan rumah, tetapi juga simbol nyata kehadiran negara dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat kecil.(ks01)