Jumat, 12 Juni 2026

Puluhan Siswa Keracunan MBG, BGN Hentikan Operasional Dapur Pondok Kelapa

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Sabtu, 4 April 2026 | 22:28 WIB
Puluhan Siswa Keracunan MBG, BGN Hentikan Operasional Dapur Pondok Kelapa. (KlikSoloNews/dok AI)
Puluhan Siswa Keracunan MBG, BGN Hentikan Operasional Dapur Pondok Kelapa. (KlikSoloNews/dok AI)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Insiden keracunan massal yang menimpa puluhan siswa di kawasan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, memicu langkah cepat dari Badan Gizi Nasional (BGN). Operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2 resmi dihentikan sementara waktu.

Keputusan ini diambil setelah sebanyak 60 siswa mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat (3/4/2026).

Para siswa dilaporkan mengalami keluhan seperti mual, diare, hingga sakit perut beberapa saat setelah menyantap makanan yang disediakan. Seluruh korban kemudian mendapatkan penanganan medis, dan kondisi mereka kini dilaporkan berangsur membaik.

Menu yang dikonsumsi saat kejadian antara lain spaghetti bolognese, bola daging, telur orak-arik tofu, sayuran, serta buah stroberi.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut.

BGN juga memastikan akan bertanggung jawab penuh, termasuk menanggung seluruh biaya pengobatan siswa yang terdampak.

“Kami menyampaikan permohonan maaf dan memastikan seluruh biaya perawatan korban ditanggung,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (4/4/2026).

Temuan Awal: Standar Dapur Tidak Memenuhi Syarat

Dari hasil investigasi awal, ditemukan adanya pelanggaran standar keamanan pangan di dapur penyedia makanan. Beberapa aspek yang menjadi sorotan meliputi tata kelola dapur hingga fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang belum sesuai ketentuan.

Selain itu, faktor waktu distribusi juga menjadi perhatian serius. Diduga, jeda terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi membuat kualitas makanan menurun.

BGN menilai, salah satu penyebab utama insiden ini adalah kurang optimalnya manajemen distribusi makanan. Dalam program skala besar seperti MBG, waktu pengantaran menjadi faktor krusial untuk menjaga kualitas dan keamanan makanan.

Keterlambatan distribusi berpotensi membuat makanan tidak lagi layak konsumsi, terutama untuk menu yang mudah basi.

Pasca kejadian ini, Badan Gizi Nasional berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di berbagai daerah.

Seluruh SPPG diminta meningkatkan disiplin dalam menerapkan protokol keamanan pangan, termasuk pengawasan ketat pada proses produksi hingga distribusi makanan.

Langkah ini diambil untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap program pemenuhan gizi nasional tersebut.(ks01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X