Sabtu, 13 Juni 2026

Pemprov Jateng Siapkan Hunian Tetap untuk Korban Tanah Gerak di Brebes

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Kamis, 19 Februari 2026 | 20:30 WIB
Pemprov Jateng Siapkan Hunian Tetap untuk Korban Tanah Gerak di Brebes (Kliksolonews/dok)
Pemprov Jateng Siapkan Hunian Tetap untuk Korban Tanah Gerak di Brebes (Kliksolonews/dok)

BREBES, KLIKSOLONEWS.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat menangani dampak bencana tanah gerak di Dukuh Makam dan Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Salah satu langkah prioritas adalah menyiapkan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak yang kini masih mengungsi.


Saat ini para korban menempati lokasi pengungsian di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, Dukuh Limbangan, Desa Sridadi.


Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas C Penanggungan, mengatakan berdasarkan pendataan sementara terdapat sekitar 143 rumah mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah.


“Korban tanah gerak jumlahnya kurang lebih sekitar 143 rumah rusak, dari ringan sampai berat, bahkan ada yang roboh. Terdampak sekitar 175 kepala keluarga,” ujar Bergas saat meninjau lokasi, Rabu (18/2/2026).


Menurutnya, warga berharap segera direlokasi ke huntap agar tidak terlalu lama berada di pengungsian. Saat ini pemerintah tengah mencari lokasi yang aman dan layak.


“Harapan mereka huntap. Ini sedang proses dicarikan lokasinya. Informasi sementara alternatif berada di lahan Perhutani,” jelasnya.


Ia menambahkan, penentuan lokasi membutuhkan kajian geologi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral untuk memastikan keamanan jangka panjang.


“Relokasi warga tidak mudah. Apalagi mencari lahan yang secara geologi benar-benar aman,” terangnya.


Sementara itu, salah satu pengungsi Juliandi mengungkapkan kondisi tanah masih terus bergerak sehingga warga memilih meninggalkan rumah.


“Warga takut, makanya diungsikan,” ujarnya.


Data sementara mencatat sedikitnya 147 rumah terdampak termasuk masjid dan TPQ, dengan total warga terdampak mencapai 532 jiwa. Selain permukiman, lahan persawahan warga juga mengalami kerusakan akibat perubahan struktur tanah.


Pengungsi lain, Masrifah (59), mengaku masih trauma dengan suara retakan dari rumahnya.


“Tiap malam bunyi terus. Retak-retak. Takut lepas,” katanya pelan.


Ia menuturkan rumahnya sempat diperbaiki, namun retakan kembali muncul sehingga pada pukul 06.00 WIB ia memutuskan mengungsi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X