BOYOLALI, KLIKSOLONEWS.COM – Keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama dalam upaya pengurangan risiko bencana longsor di wilayah rawan.
Tim KKN 17 Universitas Sebelas Maret (UNS) berkolaborasi dengan Rajawali dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Boyolali menyelenggarakan Program Kerja Sosialisasi Mitigasi Longsor dan Pengenalan Dinding Penahan Tanah sebagai langkah edukatif dan preventif.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potensi longsor, upaya pencegahan, serta penerapan konstruksi dinding penahan tanah sebagai solusi teknis dalam menjaga stabilitas lereng dan keselamatan lingkungan.
Langkah ini bukan sekadar kegiatan sosialisasi biasa, melainkan wujud nyata sinergi antara mahasiswa dan relawan kebencanaan dalam memperkuat budaya sadar risiko di masyarakat.
Tim KKN Kelompok 17 Universitas Sebelas Maret (UNS) berkolaborasi bersama komunitas relawan Rajawali serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Boyolali dalam menyelenggarakan Program Kerja Sosialisasi Mitigasi Longsor dan Pengenalan Dinding Penahan Tanah.
Kegiatan Sosialisasi Mitigasi Longsor dan Pengenalan Dinding Penahan Tanah dilaksanakan pada pukul 14.00–16.30 WIB sebagai bentuk kolaborasi Tim KKN Kelompok 17 Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama komunitas relawan Rajawali dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Boyolali.
Pada sesi pertama, BPBD Boyolali menyampaikan materi mitigasi tanah longsor yang mencakup pengertian gerakan tanah, faktor penyebab, jenis-jenis longsor yang umum terjadi di Jawa Tengah, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan sesudah bencana.
Selain itu, BPBD juga mengenalkan tanaman vetiver sebagai salah satu metode mitigasi vegetatif. Vetiver memiliki sistem perakaran yang sangat dalam dan kuat sehingga mampu mengikat partikel tanah, mengurangi erosi, meningkatkan daya serap air, serta membantu memperkuat lereng pada area rawan longsor.
Pendekatan ini menjadi solusi alami yang relatif sederhana namun efektif dalam jangka panjang.
Selanjutnya, mahasiswa KKN dengan latar belakang Teknik Sipil mengisi sesi Pengenalan Dinding Penahan Tanah sebagai bentuk mitigasi struktural.
Pada sesi ini dijelaskan fungsi struktur dalam menahan tekanan lateral tanah, prinsip kerja dinding penahan tanah, serta contoh penerapannya di lapangan.
Penjelasan disampaikan secara sederhana dan aplikatif agar masyarakat tidak hanya memahami risiko longsor, tetapi juga mengetahui solusi teknis yang dapat diterapkan sesuai kondisi lingkungan.
Kegiatan ini juga selaras dengan tujuan United Nations melalui program Sustainable Development Goals (SDGs).
Khususnya Tujuan 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dalam upaya meningkatkan ketahanan terhadap bencana, serta Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam mitigasi risiko bencana.
Sinergi antara BPBD, relawan Rajawali, dan mahasiswa diharapkan mampu mendorong terciptanya masyarakat yang lebih tangguh, sadar risiko, dan berkelanjutan.
-
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Tim KKN Kelompok 17, Dr. techn. Ir. Sholihin As’ad, M.T., dari Universitas Sebelas Maret (UNS), menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa, Rajawali, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Boyolali.
Sholihin menegaskan kegiatan ini mencerminkan peran nyata mahasiswa dalam mengimplementasikan keilmuan di tengah masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di bangku perkuliahan, tetapi juga hadir memberikan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Sinergi dengan BPBD dan relawan menjadi pengalaman berharga sekaligus bentuk kontribusi nyata dalam pengurangan risiko bencana,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tarubatang, Sabarno, turut menyambut baik pelaksanaan sosialisasi ini. Ia menilai kegiatan tersebut sangat relevan dengan kondisi wilayah, khususnya di Dukuh Surodadi, yang memiliki potensi longsor saat musim hujan.
“Kami berharap masyarakat semakin memahami tanda-tanda longsor dan langkah pencegahannya. Edukasi tentang vetiver dan dinding penahan tanah sangat bermanfaat sebagai upaya perlindungan lingkungan dan permukiman warga,” ujarnya.
Sabarno juga berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut di masa mendatang, sehingga upaya mitigasi bencana di Desa Tarubatang dapat dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh unsur masyarakat. (Tim KKN Kelompok 17 UNS/KS01)