Sabtu, 13 Juni 2026

Survei Jobstreet: Tren Dunia Kerja 2024, Rekrutmen Tetap Tinggi Meski Banyak PHK

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Kamis, 4 September 2025 | 15:50 WIB
Survei Jobstreet: Tren Dunia Kerja 2024, Rekrutmen Tetap Tinggi Meski Banyak PHK. (KlikSoloNews/dok)
Survei Jobstreet: Tren Dunia Kerja 2024, Rekrutmen Tetap Tinggi Meski Banyak PHK. (KlikSoloNews/dok)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Survei Jobstreet by SEEK mencatat 42 persen perusahaan di Indonesia mengurangi pegawai sepanjang 2024. Pegawai tetap purnawaktu jadi kelompok paling terdampak PHK, meski rekrutmen baru tetap berlangsung di banyak sektor.


Dunia kerja di Indonesia sepanjang tahun 2024 diwarnai dengan dinamika yang cukup kontras. Survei terbaru yang dirilis Jobstreet by SEEK mencatat 42 persen perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja, baik melalui pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun tidak mengganti pegawai yang mengundurkan diri.

Yang paling banyak terdampak adalah karyawan tetap penuh waktu dengan persentase 27 persen, meskipun kategori ini masih mendominasi proses rekrutmen baru dengan porsi hingga 78 persen.

“Pegawai tetap purnawaktu masih mendominasi pasar kerja, tetapi sekaligus menjadi kelompok yang paling terdampak PHK, diikuti tenaga kontrak, paruh waktu, hingga pekerja sementara,” jelas Public Relations Jobstreet Indonesia, Adham Somantrie, dalam Forum Business Gathering di UNS Tower, Kamis 4 September 2025.

Meskipun banyak perusahaan melakukan efisiensi, peluang kerja masih terbuka. Data Jobstreet menyebutkan bahwa 94 persen perusahaan tetap membuka lowongan baru sepanjang 2024, melanjutkan tren rekrutmen tinggi sejak tahun sebelumnya.

Secara nasional, situasi ketenagakerjaan menunjukkan perbaikan. Tingkat pengangguran berhasil ditekan dari 5,32 persen menjadi 4,91 persen. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar pekerja yang terdampak PHK masih bisa terserap kembali di perusahaan lain.

Ancaman AI di Dunia Kerja

Selain isu PHK, perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi perhatian utama. Adham memperkirakan bahwa secara global, hingga 92 juta pekerjaan berpotensi tergantikan oleh teknologi AI.

“Kalau tidak siap, AI bisa menjadi ancaman serius. Namun jika mampu beradaptasi, justru bisa membuka peluang baru,” ujarnya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya bagi fresh graduate maupun pekerja aktif untuk meningkatkan daya saing melalui penguatan soft skill (komunikasi, adaptasi, manajemen konflik) dan hard skill sesuai bidang. Networking, mentoring, serta pencapaian pribadi juga menjadi faktor penting untuk menembus persaingan pasar kerja.

Hal senada disampaikan Sri Wahyuningsih, Ketua Program Studi D4 Demografi dan Pencatatan Sipil (DPS) Universitas Sebelas Maret (UNS). Ia menilai generasi muda harus memiliki keterampilan digital, kreativitas, serta fleksibilitas dalam karier.

“Lulusan kami diharapkan siap pada tiga jalur: melanjutkan pendidikan, membangun usaha, atau berkarier di sektor publik maupun swasta,” kata Sri.

Dengan tantangan efisiensi perusahaan dan disrupsi AI, generasi muda dituntut tidak hanya menguasai ilmu akademis, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X