Jumat, 12 Juni 2026

Komdigi Panggil TikTok dan Meta Usai Ricuh Demo DPR, X Tidak Masuk Daftar

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Rabu, 27 Agustus 2025 | 13:30 WIB
Komdigi Panggil TikTok dan Meta Usai Ricuh Demo DPR, X Tidak Masuk Daftar. (KlikSoloNews/dok)
Komdigi Panggil TikTok dan Meta Usai Ricuh Demo DPR, X Tidak Masuk Daftar. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bakal memanggil dua raksasa media sosial, TikTok dan Meta (Facebook & Instagram), buntut kericuhan demo di Gedung DPR RI pada Senin 25 Agustus 2025. Langkah ini diambil karena maraknya konten provokatif yang dinilai memperkeruh situasi.

Wakil Menteri Komdigi Angga Raka Prabowo menegaskan platform digital wajib ikut menjaga ruang informasi dari disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK).

“Ini merusak sendi demokrasi. Aspirasi masyarakat bisa dipelintir karena dibumbui informasi yang salah di media sosial,” ujar Angga saat diskusi dengan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi, di Jakarta, Selasa 26 Agustus 2025.

Menurut Angga, pemerintah telah mengundang TikTok Asia Pasifik dan Meta untuk membahas isu konten bermasalah. Sementara itu, platform X (dulu Twitter) tidak dipanggil karena tidak memiliki kantor di Indonesia.

“Kita harus sampaikan ke publik bahwa platform X itu tidak punya kantor di Indonesia. Seharusnya mereka juga patuh pada hukum kita,” jelasnya.

Komdigi juga meminta masyarakat dan media lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Angga menegaskan, platform digital wajib menindak otomatis konten provokatif maupun bermuatan DFK.

“Konten yang masuk kategori DFK wajib ditindak tegas. Platform digital harus patuh hukum Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala PCO Hasan Nasbi mengapresiasi media yang sudah memiliki kanal cek fakta. Menurutnya, peran media sangat penting untuk meredam derasnya isu provokatif.

“Kita apresiasi media yang punya kanal cek fakta. Kalau hanya satu-dua pihak saja, tidak cukup menangkal konten DFK,” kata Hasan.

Ia mendorong media mainstream yang belum memiliki kanal cek fakta untuk segera membuatnya. Menurut Hasan, hal ini penting agar masyarakat tidak mudah terseret arus informasi instan tanpa pertimbangan matang.

“Kalau tidak, masyarakat bisa lama-lama terbawa reaksi spontan alias knee-jerk reaction (KJR),” tegasnya. (KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X