Jumat, 12 Juni 2026

Data TBC Nasional 2025: Satu Juta Kasus, Baru Setengah yang Terdeteksi

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Rabu, 27 Agustus 2025 | 12:00 WIB
Data TBC Nasional 2025: Satu Juta Kasus, Baru Setengah yang Terdeteksi. (KlikSoloNews/dok)
Data TBC Nasional 2025: Satu Juta Kasus, Baru Setengah yang Terdeteksi. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COMTuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Laporan Global Tuberculosis Report 2024 mencatat Indonesia berada di peringkat kedua dunia dengan estimasi 1,09 juta kasus TBC dan 125 ribu kematian setiap tahun.

Angka tersebut menegaskan urgensi percepatan eliminasi TBC secara masif, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian menegaskan percepatan eliminasi TBC tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan. Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah melalui kebijakan, kewenangan, dan sumber daya yang ada sangat penting.

“Semua perangkat daerah harus bergerak bersama. Kemendagri akan memastikan agar penanggulangan TBC menjadi prioritas pembangunan di setiap daerah,” ujar Tito dalam Rapat Koordinasi Forum 8 Gubernur, Selasa 26 Agustus 2025, dilansir laman resmi Kemenkes.

Ia juga mengingatkan pengalaman bangsa saat menghadapi pandemi COVID-19, di mana kolaborasi lintas sektor terbukti mampu membawa Indonesia keluar dari krisis.

TBC Lebih Mematikan daripada COVID-19

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menegaskan eliminasi TBC merupakan salah satu program prioritas nasional (quick win) Presiden Prabowo. Ia menyebut TBC sebagai penyakit yang memiliki tingkat kematian lebih tinggi dibandingkan COVID-19.

“Setiap lima menit ada dua orang Indonesia meninggal karena TBC. Begitu pasien ditemukan, obatnya ada. Tantangan terbesar adalah menemukan kasus yang belum terdeteksi,” jelas Menkes.

Data Kemenkes menunjukkan dari estimasi 1 juta kasus TBC per tahun, baru 508.994 kasus yang ditemukan hingga 25 Agustus 2025 (47% dari target nasional).

Disebutkan, hanya Provinsi Banten yang berhasil mencapai target notifikasi kasus. Rinciannya, 90% pasien TBC sensitif obat sudah memulai terapi, sedangkan TBC resisten obat baru 77% (target 95%).

Selanjutnya keberhasilan terapi masih rendah, tidak ada provinsi yang mencapai target 90% untuk TBC sensitif obat. Sementara terapi Pencegahan TBC (TPT) masih jauh dari target: baru 8% (108.590 kontak serumah), padahal target nasional 72%.

Menkes menekankan pentingnya dukungan lintas sektor, terutama dalam memperluas cakupan pencegahan dan memastikan pengobatan tuntas. Selain itu, ia menyoroti masih rendahnya pemanfaatan anggaran TBC di sejumlah daerah.

“Dukungan dana baik dari hibah maupun APBN tersedia. Tinggal bagaimana daerah memanfaatkannya secara optimal,” tegas Budi Gunadi Sadikin.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah daerah diminta untuk menetapkan regulasi daerah yang mendukung eliminasi TBC, mengalokasikan anggaran memadai untuk program TBC, memperkuat layanan kesehatan primer untuk deteksi dini dan pengobatan, dan melibatkan masyarakat dan sektor swasta dalam pencegahan serta penanggulangan TBC.

Rapat Koordinasi Forum 8 Gubernur mempertemukan provinsi dengan beban TBC tertinggi: Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen menuju eliminasi TBC nasional tahun 2030. (KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X