Sabtu, 13 Juni 2026

BMKG Minta Satgas Karhutla Tetap Siaga hingga Agustus 2025, Kemarau Masih Berlangsung

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Senin, 28 Juli 2025 | 17:30 WIB
BMKG Minta Satgas Karhutla Tetap Siaga hingga Agustus 2025, Kemarau Masih Berlangsung. (KlikSoloNews/dok)
BMKG Minta Satgas Karhutla Tetap Siaga hingga Agustus 2025, Kemarau Masih Berlangsung. (KlikSoloNews/dok)

JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh satuan tugas desk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia untuk tetap siaga penuh hingga Agustus 2025, mengingat puncak musim kemarau masih berlangsung di sejumlah daerah rawan.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan meskipun sebagian wilayah sudah melewati puncak kemarau, beberapa daerah, terutama Sumatera bagian selatan dan sebagian wilayah Kalimantan, masih berada dalam kondisi kritis.

“Mayoritas wilayah Kalimantan telah mengalami puncak kemarau pada Juni–Juli, namun sebagian wilayah lainnya masih akan mengalaminya pada Agustus. Oleh karena itu, kita semua harus tetap waspada dan siaga,” tegas Dwikorita, Senin 28 Juli 2025.

BMKG mencatat  Sumatera Selatan dan Lampung masih berada dalam periode puncak kemarau hingga Agustus mendatang.

Khusus untuk Provinsi Riau, potensi kebakaran hutan dan lahan meningkat karena curah hujan sangat rendah pada 10 hari pertama Agustus, hanya berkisar antara 20–50 milimeter, terutama di wilayah utara dan barat.

Namun, pada dasarian kedua dan ketiga Agustus, curah hujan di wilayah tersebut diperkirakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 150 mm per dasarian.

Tingkat Keterbakaran Lahan Masih Sangat Tinggi

BMKG juga menyebut bahwa indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC) – yang menunjukkan tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah – masih berada dalam kategori sangat tinggi dan akan mulai signifikan pada 30 Juli 2025. Penurunan diperkirakan baru terjadi setelah 3 Agustus.

“Meski curah hujan meningkat, tingkat kekeringan tanah tetap tinggi. Ini artinya risiko kebakaran masih besar,” tambah Dwikorita.

Sebagai bentuk mitigasi, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan tim patroli darat dan udara, serta operasi modifikasi cuaca (OMC) bila diperlukan.

OMC diperlukan untuk menurunkan suhu dan meningkatkan kelembapan udara melalui penyemaian awan (cloud seeding), terutama di wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem.

“Pastikan tidak ada aktivitas pembakaran, baik oleh masyarakat maupun industri. Kondisi cuaca sangat kering dan minim hujan. Indikator peta prakiraan sudah menunjukkan warna merah, artinya risiko tinggi,” jelasnya.

BMKG juga mengimbau adanya kolaborasi erat antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan instansi terkait lainnya untuk meningkatkan pengawasan dan menindak tegas pelaku pembakaran hutan. (KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X