JAKARTA, KLIKSOLONEWS.COM – Pemerintah Indonesia terus mengupayakan strategi diplomasi ekonomi menjelang batas akhir negosiasi tarif dagang dengan Amerika Serikat.
Salah satu langkah strategis terbaru adalah penawaran kerja sama investasi di sektor critical mineral yang disampaikan langsung Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin 30 Juni 2025, Airlangga menyebut Indonesia telah memberikan apa yang disebut sebagai second best offer kepada AS, yang mencakup peluang investasi bersama melalui Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia.
“Indonesia menawarkan ke Amerika critical mineral untuk Amerika bersama Danantara untuk melakukan investasi di dalam ekosistem critical mineral,” ujar Airlangga dilansir voiceofnusantara, jejaring KlikSoloNews.
Mineral yang ditawarkan meliputi komoditas vital seperti nikel, tembaga, dan logam penting lainnya. Ketiganya memainkan peran strategis dalam rantai pasok global, khususnya dalam pengembangan kendaraan listrik (EV), industri elektronik, hingga kebutuhan pertahanan.
Menurut Airlangga, kerja sama yang ditawarkan difokuskan pada proyek-proyek brownfield, yaitu proyek yang sudah berjalan dan memiliki infrastruktur dasar. Salah satu contoh proyek yang masuk kategori ini adalah PT Freeport Indonesia.
“EV ecosystem itu terkait dengan nikel dan yang lain, dan ini sudah. Bagi Amerika ini cukup menarik,” imbuhnya.
Meskipun menjanjikan, detail proyek dan nominal investasinya masih dirahasiakan. Pemerintah Indonesia menyebut bahwa pembahasan saat ini masih dalam tahap negosiasi tertutup dan berada di bawah perjanjian non-disclosure agreement (NDA).
Senjata Tawar Menjelang Batas Waktu 8 Juli
Penawaran investasi ini merupakan bagian dari taktik negosiasi menjelang tenggat kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang jatuh pada 8 Juli 2025.
Airlangga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyetujui beberapa permintaan dari pihak AS, termasuk penyesuaian tarif, penghapusan hambatan non-tarif, serta penyesuaian aspek komersial lainnya.
“Kita sudah menyampaikan Indonesia’s second best offer. Dan beberapa permintaan Amerika itu sebagian sudah kita berikan,” jelas Airlangga dalam pertemuan terpisah di Istana Kepresidenan pada Jumat (27/6).
Sejauh ini, komunikasi antara kedua negara berjalan intens, termasuk dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang dikabarkan mengapresiasi langkah-langkah positif dari Indonesia.
Namun, keputusan akhir tetap menjadi kewenangan Pemerintah AS, yang akan melibatkan koordinasi lintas lembaga seperti United States Trade Representative (USTR), Departemen Perdagangan, dan Departemen Keuangan.
“Negosiasi bersifat dinamis, karena Amerika juga mempertimbangkan kesepakatan dagang dengan negara-negara lain,” tambahnya.
Penawaran investasi di sektor mineral kritis tak hanya bertujuan menguatkan posisi Indonesia dalam negosiasi tarif, tetapi juga mencerminkan upaya strategis untuk menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok industri teknologi dan energi global.
Jika berhasil, kesepakatan ini bisa menjadi tonggak baru dalam hubungan dagang Indonesia-AS dan mendongkrak daya saing Indonesia di tengah kompetisi global industri berbasis energi bersih dan teknologi tinggi.(ks01)