Sabtu, 13 Juni 2026

Pakar Tata Kota Undip: Tanpa Tanggul Laut, Sayung akan Terus Terendam Rob

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Rabu, 25 Juni 2025 | 18:30 WIB
Pakar Tata Kota Undip: Tanpa Tanggul Laut, Sayung akan Terus Terendam Rob. (KlikSoloNews dok Pemprov Jateng)
Pakar Tata Kota Undip: Tanpa Tanggul Laut, Sayung akan Terus Terendam Rob. (KlikSoloNews dok Pemprov Jateng)

SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM - Pembangunan tanggul laut kini menjadi tumpuan harapan warga Sayung dan wilayah pesisir lainnya di Pantura Jateng.

Namun, pakar menegaskan, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan pesisir tetap menjadi kunci agar solusi jangka panjang benar-benar efektif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan abrasi di masa depan.

Banjir rob yang masih terus menggenangi wilayah pesisir Sayung, Kabupaten Demak, dinilai hanya bisa diselesaikan secara menyeluruh melalui pembangunan tanggul laut.

Hal itu ditegaskan Prof Dr Ing Wiwandari Handayani ST MT MPS, pakar tata kota dari Universitas Diponegoro (Undip), yang menyebut tanggul laut sebagai satu-satunya solusi cepat dan strategis untuk menghadang naiknya air laut di kawasan Pantura Jawa Tengah.

“Hanya tanggul laut yang bisa menahan naiknya air laut pasang yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim,” ujar Prof Wiwandari, menanggapi kondisi rob yang kini bahkan mulai merendam jalan raya utama dan permukiman warga dengan ketinggian mencapai 50 cm, terutama pada malam hari.

Saat ini, pemerintah pusat tengah membangun tanggul laut raksasa (giant sea wall) yang terintegrasi dengan proyek Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 (Kaligawe–Sayung) sepanjang 10,6 km.

Proyek tersebut diharapkan rampung pada 2027, dan menjadi infrastruktur penopang utama dalam menahan air rob sekaligus memperbaiki sistem drainase dan daya serap kawasan pesisir.

“Masyarakat tidak bisa langsung berharap dampaknya sekarang. Proyeknya masih berjalan, tetapi akan sangat penting dalam jangka menengah,” ujar Prof Wiwandari.

Solusi Jangka Panjang

Meski menilai tanggul laut sebagai solusi utama, Prof Wiwandari menekankan bahwa peran masyarakat tetap penting dalam menjaga ekosistem pesisir.

Ia mendorong keterlibatan aktif warga dalam rehabilitasi lingkungan melalui penanaman mangrove dan pengembangan sektor perikanan berkelanjutan.

Ia juga mengapresiasi langkah Pemprov Jateng melalui program Mageri Segoro, yang telah melakukan penanaman 1,5 juta mangrove di atas lahan seluas 150 hektare sepanjang pantai utara Jawa Tengah.

Program ini diinisiasi Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin sebagai bagian dari upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan abrasi pantai.

“Perubahan iklim terus terjadi. Pemerintah akan kewalahan jika masyarakat tidak dilibatkan dalam menjaga pesisir,” tegasnya.

Sambil menunggu rampungnya tanggul laut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus melakukan berbagai upaya penanganan rob. Langkah yang diambil meliputi pompanisasi di titik genangan banjir, pengerukan sungai dan drainase, dan normalisasi aliran air di kawasan terdampak.

Bantuan sosial langsung, termasuk pelayanan kesehatan keliling (Speling), cek kesehatan gratis, bantuan sembako, hingga alat tulis bagi anak-anak terdampak rob

Kepala BBPJN Jateng–DIY, Khusairi, menjelaskan bahwa Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 yang menelan anggaran Rp 10,9 triliun juga dibangun dengan konstruksi khusus tanggul laut. Selain menahan rob, jalan tol ini dirancang untuk mengeringkan lahan seluas 576,04 hektare.

Dalam proyek ini juga dibangun Kolam Retensi Terboyo dan Sriwulan, yang berfungsi menampung air rob dan hujan untuk kemudian dialirkan ke laut atau area resapan. (KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X