Jumat, 12 Juni 2026

Dorong Swasembada Garam, Pabrik Garam Industri SPJT Serap 30 Ribu Ton Garam Petambak Pati

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Rabu, 25 Juni 2025 | 15:30 WIB
Dorong Swasembada Garam, Pabrik Garam Industri SPJT Serap 30 Ribu Ton Garam Petambak Pati. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)
Dorong Swasembada Garam, Pabrik Garam Industri SPJT Serap 30 Ribu Ton Garam Petambak Pati. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)

PATI, KLIKSOLONEWS.COM – Upaya mewujudkan swasembada garam nasional kembali mendapatkan dorongan nyata. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemprov Jawa Tengah, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT), resmi mengoperasikan pabrik garam industri di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati.

Beroperasi sejak Juni 2025, pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare ini memiliki kapasitas produksi hingga 25.000 ton garam industri per tahun.

Seluruh bahan bakunya diserap dari petambak lokal, dengan total potensi serapan mencapai 30.000 ton per tahun.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menyebut langkah ini sebagai bentuk konkret hilirisasi sektor pergaraman di Jawa Tengah.

Menurutnya, Kabupaten Pati merupakan penghasil garam terbesar kedua di Indonesia setelah Madura, dengan produksi mencapai 150 ribu ton per tahun. Namun demikian, sebagian besar hasil petambak masih berkualitas rendah dan tidak memenuhi standar industri.

“Lewat pabrik ini, garam krosok petani akan diolah sehingga kadar NaCl-nya bisa meningkat hingga minimal 97 persen, sesuai kebutuhan industri seperti kosmetik, farmasi, pakan ternak, dan tekstil,” kata Sumarno saat peresmian pabrik, Selasa 24 Juni 2025.

Ia menambahkan, kehadiran pabrik tak hanya meningkatkan nilai tambah hasil petambak, tapi juga menjadi instrumen pengendali harga di tingkat produsen.

“Petambak kini mendapat kepastian harga, sekaligus akses pasar yang lebih terjamin,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT SPJT, Untung Juanto, menjelaskan kebutuhan garam nasional saat ini mencapai 4,9 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 2,04 juta ton. Artinya, hampir separuhnya masih mengandalkan impor.

“Inilah yang ingin kami tekan. Dengan menyerap 30 ribu ton dari petani lokal dan memproduksi garam industri berkualitas tinggi, kami berkontribusi dalam menutup kesenjangan pasokan itu,” ujarnya.

Pabrik SPJT di Batangan mengandalkan gas CNG sebagai bahan bakar utama, yang dipasok dari JPEN, guna mendukung konsep industri hijau. Mesin dan peralatan utamanya juga dibuat oleh perusahaan dalam negeri, menunjukkan dukungan terhadap industri nasional.

Dalam hal distribusi, SPJT telah menjalin kerja sama dengan 21 perusahaan dari berbagai sektor, dengan total permintaan gabungan mencapai 1.500 ton per bulan.

Bagi petambak lokal, kehadiran pabrik ini menjadi harapan baru. Joko Senawi, petani garam asal Batangan, mengaku kini lebih mudah memasarkan hasil panennya.

“Harga sekarang stabil di Rp1.600 per kilogram. Setahun saya bisa produksi 130 ton. Kalau dulu harus jual ke luar kota, sekarang tinggal kirim ke pabrik,” ujarnya.

Dengan dukungan penuh dari Pemprov Jawa Tengah dan strategi hulu-hilir yang menyatu, langkah SPJT diharapkan mampu menjadi model pengembangan garam industri nasional yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal.(ks01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X