SOLO, KLIKSOLONEWS.COM — Kampung Baluwarti yang berada di jantung Keraton Kasunanan Surakarta kini tampil lebih bercahaya dan aman berkat inisiatif dari Research Group (RG) Arsitektur dan Lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS).
Tim dari Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik tersebut telah sukses memasang lampu penerangan tenaga surya hemat energi di kawasan bersejarah itu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat UNS dan dipimpin Prof Dr Ars Ir Avi Marlina ST MT, yang menggandeng tim akademisi dan mahasiswa dari FT UNS.
Pemasangan dilakukan di sejumlah titik strategis di Baluwarti, dengan tujuan meningkatkan kenyamanan, keamanan, serta memperkuat identitas visual kampung yang sarat nilai budaya tersebut.
“Kami ingin masyarakat bisa menikmati suasana malam di Baluwarti yang terang, aman, namun tetap selaras dengan nuansa heritage-nya,” jelas Prof Avi dilansir laman resmi UNS.
Penerangan yang digunakan berbasis energi surya, memungkinkan lampu menyala otomatis sejak senja hingga pagi tanpa mengandalkan listrik PLN. Ini sejalan dengan komitmen terhadap energi bersih dan berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-7 dan ke-11.
Desain lampu tidak hanya mempertimbangkan fungsi pencahayaan, tetapi juga menyatu secara visual dengan bangunan dan elemen arsitektur di sekitarnya. Hal ini memperkuat pesona estetika kawasan, yang sebelumnya redup saat malam tiba.
“Penerangan ini bukan hanya soal cahaya, tapi juga soal identitas. Kami merancang sudut dan posisi lampu agar mempertegas keindahan struktur benteng Keraton yang sebelumnya tersembunyi,” tambah Prof Avi.
Kolaborasi yang Mendukung Wisata Budaya
Dalam kegiatan yang turut dihadiri Lurah Baluwarti, pengurus RT/RW, LPMK, dan tokoh masyarakat setempat, proyek ini disambut antusias.
-
Lurah Baluwarti, Danang Agung Warsiyanto, menyampaikan masyarakat telah lama memimpikan pencahayaan yang tidak hanya efisien, tapi juga mempercantik wajah kampung budaya ini.
“Lampu-lampu ini telah menghidupkan kembali dinding-dinding keraton yang dulu gelap. Kini Baluwarti lebih bersinar dan kami harap ini menjadi awal dari geliat wisata malam di kampung kami,” ungkap Danang.
Baluwarti bukan sekadar lingkungan tempat tinggal, melainkan simbol budaya yang hidup—dihuni oleh para abdi dalem dan bangsawan, serta pelaku seni dan tradisi.
Sayangnya, keterbatasan penerangan selama ini menjadi hambatan bagi kenyamanan warga maupun geliat wisata malam hari. Melalui inisiatif ini, UNS berupaya menunjukkan bahwa modernisasi bisa berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Diharapkan model pencahayaan berbasis energi terbarukan ini bisa diterapkan di kampung-kampung heritage lain di Indonesia, sebagai wujud sinergi antara teknologi, estetika, dan pelestarian warisan budaya. (KS01)