Sabtu, 13 Juni 2026

Pemprov Jateng Gandeng Zurich Foundation dan Mercy Corps Indonesia Garap Kawasan Pesisir Tangguh Iklim

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Selasa, 6 Mei 2025 | 10:30 WIB
Pemprov Jateng Gandeng Zurich Foundation dan Mercy Corps Indonesia Garap Kawasan Pesisir Tangguh Iklim. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)
Pemprov Jateng Gandeng Zurich Foundation dan Mercy Corps Indonesia Garap Kawasan Pesisir Tangguh Iklim. (KlikSoloNews/dok Pemprov Jateng)

SEMARANG, KLIKSOLONEWS.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menjalin kerja sama strategis dengan Zurich Foundation melalui Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA), serta Mercy Corps Indonesia (MCI), dalam proyek pembangunan kawasan pesisir berketahanan iklim.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan di Hotel Gumaya, Kota Semarang, Senin 5 Mei 2025.

Proyek jangka panjang ini menyasar kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah dengan tujuan membangun model pengelolaan kawasan pesisir terpadu yang tangguh terhadap dampak perubahan iklim hingga tahun 2035.

Wilayah yang menjadi fokus antara lain Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kota Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Grobogan.

Direktur Eksekutif MCI, Ade Soekadis, mengungkapkan penurunan muka tanah di wilayah Pantura merupakan isu kritis yang mendorong dipilihnya Jawa Tengah sebagai lokasi proyek.

“Dampak penurunan muka tanah dari Brebes hingga Jepara sangat signifikan. Banyak desa yang tenggelam, dan wilayah-wilayah pesisir mengalami rob hingga banjir bandang. Ini kondisi yang mendesak untuk ditangani,” ujar Ade.

Proyek ini akan dijalankan melalui tiga pendekatan utama:

  • Memperkuat kebijakan global dan nasional terkait banjir dan genangan pesisir permanen.

  • Mendorong pembangunan berketahanan iklim secara efektif di tingkat nasional.

  • Memberdayakan masyarakat terdampak banjir dan abrasi, khususnya di kawasan pesisir.


Salah satu contoh pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui pengembangan mata pencaharian alternatif, seperti model keramba apung untuk sektor perikanan di wilayah abrasi Pekalongan. Model ini memungkinkan adaptasi terhadap pasang surut air laut, sehingga tetap memberi nilai ekonomi bagi warga.

Pendekatan serupa juga diterapkan di wilayah hulu. Di Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, misalnya, petani didorong menggunakan pupuk organik dan membudidayakan tanaman konservatif untuk mengurangi risiko longsor dan banjir bandang, sambil tetap meningkatkan nilai ekonomi.

“Dua benefit bisa diperoleh sekaligus—secara ekonomi berdaya, secara lingkungan juga berdampak positif,” kata Ade.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyambut baik inisiatif ini dan berharap Jateng menjadi percontohan dalam pengelolaan kawasan pesisir terpadu yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Ia menekankan pentingnya perhatian dari sisi hulu melalui perbaikan Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti Kupang, Babon, dan Tuntang, yang bermuara ke wilayah Pantura. Koordinasi antara pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota disebutnya menjadi kunci keberhasilan program.

“Kami akan sinkronkan dengan program infrastruktur dan menggandeng pihak akademisi, seperti Universitas Diponegoro, dalam proyek desalinasi air bersih untuk wilayah pesisir,” jelasnya.

Salah satu inovasi yang tengah dirintis adalah pembangunan rumah apung bagi masyarakat yang enggan direlokasi dari daerah terdampak abrasi. Menurut Gus Yasin—sapaan akrabnya—konsep rumah apung ini dikembangkan bersama Undip untuk menjawab kebutuhan pemukiman adaptif di kawasan pasang surut air laut.

“Ada warga yang tetap ingin tinggal karena di sana mata pencahariannya. Maka kami fasilitasi dengan solusi rumah apung,” tutupnya.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X