KENDAL, KLIKSOLONEWS.COM – Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dukung program rumah bersubsidi untuk tenaga kesehatan. Target 30 ribu unit untuk nakes, plus kuota untuk petani, nelayan, dan buruh.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan dukungan penuh terhadap program penyediaan rumah bersubsidi bagi tenaga kesehatan yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman bersama Kementerian Kesehatan.
Menurutnya, pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan merupakan hal mendesak di Jawa Tengah, mengingat masih banyaknya rumah tidak layak huni (RTLH) di wilayah tersebut.
"Prinsipnya, kita akan dukung karena sandang, pangan, dan papan di wilayah kita sangat perlu. Terutama di Jawa Tengah, kita masih memerlukan sekitar 1,2 juta RTLH," ujar Luthfi usai menghadiri acara Akad Massal dan Penyerahan Kunci untuk Tenaga Kesehatan di Perumahan Puri Delta Asri EXT 1, Kabupaten Kendal.
Pertumbuhan penduduk Jawa Tengah yang pesat memperparah backlog perumahan di provinsi ini. Data 2024 menunjukkan, terdapat backlog kemiskinan perumahan mencapai 324.803 unit, sementara rumah korban bencana yang belum tertangani mencapai 1.297 unit.
Hingga akhir 2024, Pemprov Jateng berhasil menangani 1.800.531 unit RTLH melalui berbagai skema pendanaan, namun masih ada 1.022.113 unit yang harus segera ditangani.
"Anggaran kita cukup khusus untuk rumah tidak layak huni. Satu tahun kita anggarkan hampir 17 ribu rumah. Ini akan kita rapatkan dengan stakeholder lain," jelasnya.
Program Rumah Subsidi untuk Nakes dan Masyarakat
Dalam pemenuhan kebutuhan rumah, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pengembang perumahan harus ikut andil, baik dalam pembangunan perumahan bersubsidi maupun komersial.
Berdasarkan data KPR FLPP hingga 11 April 2025, pencairan rumah subsidi di Jawa Tengah telah mencapai 5.336 unit, dengan 1.109 unit berada di Kabupaten Kendal.
"Ada kuota sekitar 30 ribu rumah bersubsidi untuk tenaga kesehatan dari Kementerian Perumahan. Jawa Tengah sudah mendapatkan bagiannya," ungkapnya.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menambahkan, selain tenaga kesehatan, pemerintah juga menyiapkan kuota 20 ribu unit rumah bersubsidi untuk petani, nelayan, dan buruh.
Program rumah bersubsidi ini disambut antusias oleh tenaga kesehatan. Salah satu keluarga tenaga kesehatan, Danu, mengaku sangat terbantu.
"Sudah lama ingin punya rumah atas nama sendiri, sejak 15 tahun lalu. Alhamdulillah sekarang baru kesampaian," kata Danu yang menemani istrinya, Tutut Fitriyani, seorang perawat di RSUD Dr. Adhyatma Tugurejo, Semarang.
Program ini diharapkan tidak hanya membantu tenaga kesehatan, tetapi juga mempercepat pemenuhan kebutuhan rumah layak huni di Jawa Tengah.(ks01)