Sabtu, 13 Juni 2026

Garebeg Pasa 2025: Tradisi Sakral Keraton Surakarta yang Penuh Berkah

Photo Author
KS1, KlikSoloNews.com
- Selasa, 1 April 2025 | 16:59 WIB
Garebeg Pasa 2025: Tradisi Sakral Keraton Surakarta yang Penuh Berkah. (KlikSoloNews/dok)
Garebeg Pasa 2025: Tradisi Sakral Keraton Surakarta yang Penuh Berkah. (KlikSoloNews/dok)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar Hajad Dalem Garebeg Pasa JE 1958, Selasa 1 April 2025 siang.

Kegiatan tradisi di hari kedua Hari Raya Idulfitri setiap tahunnya tersebut, dilaksanakan atas Dhawuh Dalem (perintah) Raja Kraton Surakarta SSISKS Pakoe Boewono XIII beserta Prameswari Dalem GKR Pakoe Boewono.

Dalam upacara adat itu, sepasang gunungan diberangkatkan dari kawasan dalam Keraton Surakarta menuju Kagungan Dalem Masjid Ageng Keraton Surakarta.

Ratusan abdi dalem dan Sentono Dalem Kraton Surakarta tampak khidmat mengikuti jalannya prosesi acara tersebut.

Pengageng Parentah Kraton Surakarta KGPH Adipati Dipokusumo yang mendapatkan mandat dari SSISKS Pakoe Boewono XIII, meneruskan perintah pemberangkatan kirab kepada Pengageng Sasana Wilapa KPA H Dani NuradinigratĀ  yang memimpin jalannya kirab menuju Masjid Ageng.

Pantauan KlikSoloNews, dua gunungan yang berisi hasil bumi dan jajanan pasar diberangkatkan dari area Keraton sekitar pukul 10.30 WIB dan diarak oleh prajurit serta sentana dalem menuju Masjid Ageng.


Setibanya di masjid, gunungan didoakan sebelum akhirnya menjadi rebutan masyarakat yang telah menunggu di sekelilingnya.


Tradisi Garebeg Pasa yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 1 April 2025 tidak hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga menarik perhatian banyak warga yang datang untuk menyaksikan prosesi sakral ini.


Salah satu warga yang ikut berebut gunungan adalah Santi Damayanti (23), pendatang dari Jakarta. Pada mulanya, Santi bersama keluarganya berencana berbelanja di Pasar Klewer dan jalan-jalan di sekitar kawasan Keraton Surakarta.

Namun secara tidak sengaja, Santi mengetahui adanya arak-arakan gunungan setelah mendengar suara gamelan.

"Saya dengar ada gamelan dan arak-arakan, jadi penasaran dan langsung ke sini (Masjid Ageng). Ternyata ada gunungan. Saya pun ikut-ikutan rebutan bersama warga lainnya. Katanya ini membawa berkah," ujar Santi.

Pengageng Sasana Wilapa, KPA Dani Nuradinigrat, menjelaskan Garebeg Pasa ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang diberikan.

"Sinuhun mengeluarkan gunungan sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hari yang fitri ini adalah simbol kemenangan setelah satu bulan berpuasa," ucap Dani.

Ia juga berharap bahwa dengan rasa syukur ini, Keraton dapat semakin makmur ke depannya, baik bagi Sinuhun, sentana dalem, maupun seluruh masyarakat Indonesia.

"Sinuhun mengeluarkan gunungan sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hari yang fitri ini adalah simbol kemenangan setelah satu bulan berpuasa," jelas Dani.

Bagi masyarakat yang ikut serta dalam rebutan gunungan, tradisi ini bukan sekadar prosesi budaya, tetapi juga diyakini membawa keberuntungan.


"Semoga negara kita semakin makmur dan tidak kekurangan sesuatu apa pun," imbuhnya.

Beragam kepercayaan menyelimuti acara ini, dari mendapatkan berkah rezeki hingga kesehatan bagi mereka yang berhasil membawa pulang bagian dari gunungan.


Melalui tradisi ini, Keraton Surakarta tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat hubungan dengan masyarakat. Garebeg Pasa menjadi momen di mana budaya, spiritualitas, dan kebersamaan bertemu dalam satu peristiwa yang penuh makna.(KS01)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: KS1

Tags

Terkini

X